JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan militer yang melibatkan AS dan Israel. Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun media sosialnya, Truth Social, pada Sabtu waktu setempat dan telah dimuat di Instagram resmi Gedung Putih.
Dalam unggahan tersebut, Trump menyebut Khamenei sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah” dan menggambarkan kematiannya sebagai bentuk keadilan bagi korban kebijakan Iran. Ia menegaskan bahwa operasi militer yang menargetkan Khamenei didukung oleh intelijen dan sistem pelacakan berteknologi tinggi milik AS, yang menurutnya membuat sang pemimpin Iran “tak mampu menghindar”.
Trump juga mengaitkan tewasnya Khamenei dengan penderitaan yang dialami rakyat Iran maupun warga dari berbagai negara lain yang, menurut dia, telah “dibunuh atau dimutilasi” oleh tindakan Khamenei dan jaringan pendukungnya. Ia menyebut langkah ini sebagai peluang besar bagi rakyat Iran untuk “merebut kembali negara mereka”.
Sejumlah media internasional memberitakan bahwa pejabat Israel dan sumber-sumber resmi di negara itu mengklaim telah mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan udara ke kompleks tempat ia berada. Namun, hingga laporan ini disusun, otoritas Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang secara eksplisit mengakui kematian pemimpin tertinggi tersebut, sementara beberapa pejabat sebelumnya sempat membantah dan menyatakan Khamenei masih hidup.
Situasi di Iran sendiri masih tegang setelah rangkaian serangan udara AS–Israel memicu ledakan besar di Teheran dan sejumlah kota lain. Pemerintah Iran mengecam operasi tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara dan melaporkan jatuhnya ratusan korban jiwa.