JAKARTA – Pemerintah Uni Emirat Arab (UAE) meresmikan jalur pipa air desalinasi dari Mesir menuju Gaza selatan pada Kamis (28/8/2025), sebagai bentuk bantuan kemanusiaan di tengah krisis air yang semakin parah akibat agresi militer Israel.
Pipa sepanjang 6,7 kilometer tersebut membentang dari perbatasan Mesir, mengikuti jalur pesisir Gaza hingga ke kota Khan Younis. Proyek ini menjadi salah satu upaya penyelamatan vital bagi warga yang menghadapi kehancuran hampir total pada jaringan air di Jalur Gaza.
Jalur distribusi air baru ini akan mengalirkan air minum bersih ke daerah-daerah padat pengungsi seperti distrik Mawasi dan sebagian wilayah Rafah, yang kini menampung ratusan ribu warga pengungsi.
Pemerintah UAE menyebut proyek ini dirancang untuk menjamin suplai minimum 15 liter air minum per orang per hari bagi sekitar 600.000 warga Palestina yang terdampak konflik.
Saluran pipa ini juga dirancang agar beroperasi secara independen dari jaringan air utama Gaza yang selama ini dikuasai dan dikendalikan oleh Israel.
Wakil Kepala Dinas Air Kota Pesisir Gaza, Omar Shatat, menyebut proyek tersebut sebagai pencapaian besar dalam kondisi darurat saat ini.
“Pabrik ini menyediakan sumber air bersih yang vital bagi ratusan ribu orang yang menghadapi kekurangan air yang parah,” ujar Shatat, merujuk pada pabrik desalinasi milik UAE yang telah beroperasi sejak Februari di Rafah, Mesir, dilansir dari Anadolu.
Dengan bantuan pipa baru ini, kapasitas produksi pabrik desalinasi UAE meningkat hingga 10.000 meter kubik air bersih per hari.
Sejak dimulainya operasi militer Israel pada Oktober 2023, lebih dari 80 persen infrastruktur air di Gaza telah hancur. Sebelum krisis, warga Gaza bergantung pada pasokan dari perusahaan air Israel, Mekorot, dan sisanya dari sumur-sumur lokal yang kini sebagian besar tak lagi bisa digunakan.