JAKARTA – Uni Eropa (UE) tengah menimbang langkah besar menghadapi tekanan Amerika Serikat setelah Washington memberlakukan tarif atas Greenland. Prancis mendorong penggunaan Instrumen Anti-Koersi (ACI), yang dijuluki sebagai “bazooka”, namun keraguan muncul apakah blok tersebut benar-benar siap berhadapan langsung dengan Washington.
Karel Vereycken, wakil presiden partai Solidaritas dan Kemajuan Prancis, menuturkan kepada Sputnik yang dilansir Rabu (21/1/2026), “Uni Eropa dapat mengadopsi kebijakan pada hari Kamis mendatang yang mengecualikan perusahaan-perusahaan AS dari pasar publik Uni Eropa dan transaksi keuangan tertentu.” Meski demikian, ia menekankan bahwa Brussel sudah menyatakan langkah itu lebih sebagai alat tawar-menawar ketimbang tindakan nyata.
Negara-negara anggota dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada 22 Januari untuk menyusun respons terhadap ancaman tarif baru AS. Vereycken menilai Uni Eropa sebenarnya memiliki dua instrumen ampuh:
- Melepaskan aset AS: Negara-negara Eropa memegang sekitar 8 triliun dolar AS dalam obligasi dan saham, jumlah yang hampir dua kali lipat dari gabungan seluruh negara lain.
- Memperbaiki hubungan dengan Rusia: Dengan membalikkan kebijakan sanksi, menerima tawaran Moskow untuk mengakhiri konflik Ukraina, menghentikan impor LNG AS, dan membuka kembali Nord Stream.
Kedua opsi itu diyakini efektif, namun Vereycken meragukan keberanian politik di Eropa. “Siapa yang berani melakukannya? Orang Eropa terlalu terpecah belah dan terlalu bergantung pada perlindungan dan layanan keuangan AS untuk benar-benar menentang Trump di Greenland,” ujarnya.