DUBAI, Uni Emirat Arab – Uni Emirat Arab (UEA) menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah kedaulatannya digunakan dalam aksi militer apa pun terhadap Iran, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Teheran.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan Kementerian Luar Negeri UEA pada Senin (26/1/2026), pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara, darat, maupun perairannya dalam tindakan militer yang bersifat bermusuhan terhadap Iran, termasuk menolak pemberian dukungan logistik.
“UEA menegaskan kembali komitmennya untuk tidak mengizinkan wilayahnya digunakan dalam aksi militer yang bermusuhan terhadap Iran, serta tidak memberikan dukungan logistik dalam bentuk apa pun,” demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.
UEA juga menekankan bahwa penyelesaian krisis regional harus ditempuh melalui jalur diplomatik. Menurut Kemlu UEA, dialog, de-eskalasi, kepatuhan terhadap hukum internasional, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara merupakan fondasi utama dalam meredakan ketegangan yang tengah berlangsung.
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh sejumlah negara Teluk lainnya. Arab Saudi sebelumnya menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan oleh AS maupun negara lain untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa para pejabat Saudi telah menyampaikan jaminan langsung kepada Iran terkait sikap tersebut.
Selain Arab Saudi, Oman dan Qatar juga menyerukan kepada pemerintahan Presiden AS Donald Trump agar tidak mengambil langkah untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Sejumlah pejabat negara-negara Arab memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap stabilitas kawasan, pasar minyak global, serta perekonomian Amerika Serikat.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menyusul gelombang protes anti-pemerintah di sejumlah kota di Iran akibat memburuknya kondisi ekonomi. Media AS melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak pengawalnya telah bergerak menuju kawasan Teluk Oman melalui Samudra Hindia.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu lalu mengonfirmasi pengerahan armada tersebut dan menyatakan bahwa Washington terus memantau situasi di Iran. Pemerintah AS juga menegaskan bahwa seluruh opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menghadapi Teheran.
Menanggapi hal tersebut, para pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan militer terhadap negaranya akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh.
Sebagai catatan, pada Juni 2025 lalu, Israel dengan dukungan AS melancarkan operasi militer selama 12 hari terhadap Iran, yang memicu serangan balasan berupa drone dan rudal dari Teheran sebelum akhirnya Washington mengumumkan gencatan senjata.
