JAKARTA β Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) bergerak cepat menanggapi dugaan tindakan rasisme yang menimpa bintang Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga playoff Liga Champions melawan Benfica di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal, pada Rabu 18 Februari 2026.
UEFA melalui komisi disiplin resminya telah memulai investigasi mendalam setelah menerima laporan adanya perlakuan diskriminatif terhadap penyerang asal Brasil tersebut.
Dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan tipis Madrid berkat gol tunggal Vinicius, insiden terjadi ketika pemain Benfica, Gianluca Prestianni, diduga melontarkan kata bernada rasis kepada Vinicius.
Sumber di lapangan menyebut, Prestianni menutup mulutnya dengan seragam saat berdebat dengan Vinicius, tindakan yang menurut banyak pihak dianggap mencurigakan dan memancing kecurigaan adanya ucapan provokatif.
Wasit asal Prancis, Francois Letexier, sempat menghentikan laga selama kurang lebih sepuluh menit setelah Vinicius melaporkan insiden tersebut secara langsung.
Kylian Mbappe, rekan setim Vinicius di Real Madrid, turut menguatkan laporan itu dengan menyatakan bahwa ia mendengar Prestianni memanggil rekannya dengan sebutan βmonyetβ sebanyak lima kali.
Meski begitu, Gianluca Prestianni membantah keras tuduhan tersebut dan menegaskan tidak pernah mengucapkan kata-kata rasis selama pertandingan berlangsung.
UEFA menegaskan bahwa penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk melalui rekaman audio, video, serta laporan wasit dan ofisial pertandingan.
Apabila terbukti bersalah, pemain berusia 19 tahun asal Argentina itu dapat dijatuhi hukuman berat berupa larangan bermain minimal sepuluh laga di kompetisi Eropa, sesuai kebijakan yang diberlakukan sejak 2013 oleh Sekjen UEFA saat itu, Gianni Infantino.
Kebijakan tegas ini pernah diterapkan sebelumnya terhadap bek Republik Ceko, Ondrej Kudela, yang dijatuhi sanksi setelah terbukti melakukan tindakan serupa terhadap pemain Rangers, Glen Kamara.
Kasus terbaru ini kembali menyoroti perjuangan Vinicius Junior dalam melawan tindakan rasisme di sepak bola Eropa, yang beberapa kali menimpanya dalam berbagai kompetisi elite.***