ISTANBUL, TÜRKİYE – Ukraina mengusulkan putaran baru perundingan damai dengan Rusia untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang telah memakan banyak korban. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan bahwa pembicaraan akan berfokus pada isu krusial, termasuk pemulangan tawanan perang, anak-anak Ukraina yang dibawa ke Rusia, serta persiapan pertemuan puncak antar pemimpin negara.
Perundingan ini rencananya akan digelar di Turki, dengan Istanbul kembali menjadi tuan rumah setelah perundingan sebelumnya pada Mei 2025.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Zelensky menegaskan pentingnya kerangka negosiasi ini.
“Saya mendesak Anda untuk memberi tahu negara tuan rumah Anda tentang pentingnya kerangka kerja negosiasi ini,” ujarnya, menyerukan dukungan internasional untuk format perundingan tersebut.
Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, mengusulkan pertemuan ini, menekankan bahwa negosiasi yang efektif hanya dapat tercapai melalui dialog di tingkat pemimpin nasional.
Prioritas Diplomasi Ukraina
Zelensky juga menguraikan sejumlah prioritas diplomatik Ukraina dalam upaya mencapai perdamaian. Selain negosiasi, Ukraina mendorong peningkatan sanksi internasional terhadap Rusia, pengadaan sistem pertahanan udara tambahan, serta pendanaan untuk pengembangan drone militer.
Langkah ini dianggap strategis untuk memperkuat posisi Ukraina baik di meja perundingan maupun di medan perang.
Proposal ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan, dengan serangan udara Rusia yang terus menghantam kota-kota Ukraina, termasuk Kyiv. Pada Senin (21/7/2025), serangan Rusia menyebabkan kebakaran di sebuah toko dan sekolah di ibu kota Ukraina, menewaskan sedikitnya satu orang. Sementara itu,
Ukraina juga melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Rusia, menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari kata selesai.
Upaya Perdamaian di Tengah Konflik
Meskipun perundingan sebelumnya di Istanbul pada 16 Mei 2025 menghasilkan kesepakatan pertukaran tahanan sebanyak 1.000 orang dari kedua belah pihak, terobosan besar belum tercapai. Rusia terus menolak gencatan senjata tanpa syarat dan mempertahankan tuntutan, termasuk agar Ukraina menghentikan ambisinya bergabung dengan NATO dan menyerahkan wilayah yang diduduki Moskow—syarat yang disebut Zelensky sebagai “tidak dapat diterima.”
Dengan dukungan Turki sebagai mediator, Ukraina berharap putaran negosiasi mendatang dapat membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih substansial.
Zelensky menegaskan bahwa diplomasi adalah kunci untuk mengakhiri penderitaan akibat perang, namun tanpa tekanan internasional yang lebih kuat terhadap Rusia, proses perdamaian bisa terhambat.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Usulan perundingan ini mendapat sambutan positif dari beberapa pihak, termasuk Rusia, yang menyatakan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan.
Namun, Kremlin tetap bersikukuh bahwa operasi militer mereka akan berlanjut hingga tujuan strategis Presiden Vladimir Putin tercapai. Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan, dengan sejumlah negara G7 menjanjikan sanksi baru terhadap Rusia untuk mendukung Ukraina.
Perundingan di Turki pekan depan menjadi sorotan dunia sebagai langkah potensial menuju de-eskalasi. Namun, dengan sikap keras kedua belah pihak, tantangan untuk mencapai perdamaian yang langgeng tetap besar.