Pasukan Ukraina melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi terhadap infrastruktur militer Rusia pada 22 Desember 2025. Operasi ini menyasar fasilitas energi strategis, aset angkatan laut, hingga pesawat tempur, di tengah berlanjutnya upaya negosiasi damai yang dimediasi Amerika Serikat di Miami.
Menurut Staf Umum Ukraina, serangan pada malam hari tersebut menghantam terminal minyak Tamanneftegaz di wilayah Krasnodar. Serangan itu merusak satu pipa utama, dua dermaga, serta dua kapal, sekaligus memicu kebakaran hebat yang melalap area lebih dari 1.000 meter persegi. Terminal minyak Tamanneftegaz diketahui sebagai salah satu fasilitas energi terbesar di kawasan Laut Hitam, dengan kapasitas penyimpanan melebihi satu juta meter kubik.
Sumber intelijen militer Ukraina menyebut fasilitas tersebut merupakan bagian vital dari infrastruktur energi Rusia yang berperan langsung dalam pendanaan operasi militer Moskow.
Selain itu, Ukraina juga melancarkan serangan terpisah ke depot amunisi dan lokasi peluncuran drone di wilayah yang dikuasai Rusia. Sebuah rudal buatan Ukraina dilaporkan menghantam pangkalan sementara Brigade Kapal Sungai ke-92 Rusia di Olenivka, wilayah Krimea yang diduduki, hingga memicu kebakaran besar.
Aksi sabotase juga terjadi di Rusia bagian barat. Kelompok partisan Ukraina dilaporkan membakar dua jet tempur Su-30 di sebuah pangkalan militer dekat Lipetsk pada Minggu malam.
Serangan Militer di Tengah Jalur Diplomasi
Gelombang serangan ini berlangsung di tengah optimisme hati-hati Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terkait proses perundingan damai. Zelenskyy mengungkapkan bahwa hampir 90 persen tuntutan Ukraina telah diakomodasi dalam draf proposal perdamaian yang disusun Amerika Serikat.
Ia menilai kerangka negosiasi tersebut cukup solid, meski mengakui kecil kemungkinan kedua pihak dapat mencapai seluruh target yang diinginkan.
Sementara itu, Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyebut rangkaian pertemuan terpisah dengan perwakilan Ukraina, Eropa, dan Rusia di Florida sebagai diskusi yang “produktif dan konstruktif”. Pembahasan difokuskan pada rencana perdamaian 20 poin, jaminan keamanan bagi Ukraina, serta dukungan untuk pemulihan ekonomi pascaperang.
Rusia Balas Serangan Jelang Natal
Beberapa jam setelah serangan Ukraina, Rusia melancarkan serangan balasan berskala besar pada malam 23 Desember. Zelenskyy menyebutnya sebagai serangan “masif”, dengan peluncuran lebih dari 635 drone dan 38 rudal yang menghantam infrastruktur energi di 13 wilayah Ukraina.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tiga orang, termasuk seorang anak berusia empat tahun, serta menyebabkan pemadaman listrik luas saat warga Ukraina bersiap merayakan Natal.
“Serangan menjelang Natal, ketika orang-orang hanya ingin bersama keluarga mereka dan merasa aman,” tulis Zelenskyy melalui Telegram. Ia menegaskan bahwa serangan itu terjadi di tengah proses negosiasi yang seharusnya bertujuan mengakhiri perang.
Di sisi lain, Rusia juga diguncang insiden keamanan internal. Letnan Jenderal Fanil Sarvarov, Kepala Direktorat Pelatihan Operasional Rusia, tewas akibat bom mobil di Moskow pada 22 Desember. Otoritas Rusia menyatakan tengah menyelidiki kemungkinan keterlibatan Ukraina dalam insiden tersebut, yang menjadi pembunuhan ketiga terhadap perwira militer senior Rusia dalam kurun waktu lebih dari satu tahun.