JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Iran saling melontarkan ancaman baru yang berpotensi memperdalam eskalasi perang di Teluk. Trump pada Sabtu memperingatkan akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam. Ancaman itu muncul hanya sehari setelah ia berbicara tentang “mengakhiri” perang yang telah memasuki minggu keempat.
Iran merespons dengan peringatan keras pada Minggu, menyatakan akan menargetkan infrastruktur energi dan teknologi milik AS serta Israel di kawasan jika serangan terhadap fasilitasnya benar-benar dilakukan. “Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang, seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik Amerika Serikat dan rezim (Israel) di kawasan akan menjadi sasaran,” tegas Markas Pusat Khatam al-Anbiya, dilansir dari Reuters, Minggu (22/3/2026).
Konflik yang dimulai pada 28 Februari telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengguncang pasar global. Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, sementara Selat Hormuz — jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia — nyaris tertutup akibat serangan balasan Iran.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menyebut ancaman Trump sebagai “bom waktu 48 jam” yang menimbulkan ketidakpastian tinggi. Ia memperingatkan bahwa jika ultimatum tidak dicabut, pasar ekuitas global bisa kembali anjlok seperti peristiwa Black Monday, sementara harga minyak berpotensi melambung lebih tinggi.
Selain itu, Iran memperluas risiko dengan meluncurkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau ibu kota-ibu kota Eropa, memperlebar spektrum ancaman di luar Timur Tengah. Situasi ini menambah tekanan politik bagi Trump di dalam negeri, dengan mayoritas warga AS menolak serangan militer terhadap Iran menurut jajak pendapat terbaru.