JAKARTA – Bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatra terus menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur secara masif. Hingga pembaruan terbaru pada 13 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 995 jiwa. Ribuan warga lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal. Pemerintah pusat dan daerah masih berupaya menangani dampak kemanusiaan dari bencana alam ini yang memengaruhi puluhan kabupaten.
Berdasarkan laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang dikutip Garuda.TV menyebutkan bahwa skala dampak bencana tergolong sangat serius. Dalam laporan berjudul Update Bencana Banjir dan Longsor di Sumatra, BNPB mencatat 995 orang meninggal dunia, 226 orang dinyatakan hilang, serta sekitar 5,4 ribu orang mengalami luka-luka. Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya dan menegaskan urgensi upaya pencarian serta penyelamatan.
Kerusakan juga meluas pada berbagai fasilitas publik. BNPB mencatat sekitar 1,2 ribu fasilitas umum mengalami kerusakan. Di antaranya 434 rumah ibadah rusak, 219 fasilitas kesehatan terdampak, serta 290 gedung atau kantor pemerintahan mengalami kerusakan. Selain itu, sebanyak 581 fasilitas pendidikan rusak, sehingga mengganggu proses belajar mengajar di wilayah terdampak.
Sektor infrastruktur transportasi turut terdampak serius. Sebanyak 145 jembatan rusak, menyebabkan terputusnya akses antarwilayah dan menghambat distribusi bantuan kemanusiaan. Dampak terparah terjadi pada sektor perumahan, dengan sekitar 158 ribu rumah rusak. Kondisi ini memaksa ratusan ribu warga mengungsi dan bergantung pada tenda darurat serta bantuan logistik.
Secara keseluruhan, bencana banjir dan longsor ini melanda 52 kabupaten di berbagai provinsi di Sumatra, termasuk Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Riau. Wilayah-wilayah tersebut dikenal rawan bencana akibat curah hujan tinggi dan kerusakan lingkungan.
Para ahli lingkungan menilai fenomena iklim ekstrem, termasuk La Nina yang berkepanjangan, sebagai salah satu pemicu utama bencana. BNPB menegaskan pentingnya penguatan mitigasi jangka panjang, seperti reboisasi dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Pemerintah telah mengerahkan ribuan personel TNI, Polri, serta relawan untuk melakukan evakuasi dan penyaluran bantuan. Bantuan dari berbagai organisasi kemanusiaan juga mulai berdatangan, dengan fokus pada penyediaan air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar pengungsi. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir dan longsor susulan, terutama di wilayah pegunungan.
Selain menjadi tragedi kemanusiaan, bencana ini juga menimbulkan dampak ekonomi yang besar bagi Sumatra, terutama pada sektor pertanian dan pariwisata. Kerugian materiil diperkirakan mencapai triliunan rupiah, meski angka resmi masih dalam tahap pendataan.
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam bantuan kemanusiaan dapat menghubungi posko terdekat atau melalui kanal resmi BNPB. Informasi terkini terkait bencana banjir Sumatra 2025 dapat terus dipantau untuk mendukung proses pemulihan wilayah terdampak.