JAKARTA – Sejumlah wilayah di Indonesia kembali diterjang bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk mengoptimalkan penanganan bencana.
- 1. Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Garut, Jawa Barat
- 2.Banjir di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
- 3. Banjir di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
- 4. Tanah Longsor di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
- 5. Cuaca Ekstrem di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
- 6. Banjir di Kota Surakarta, Jawa Tengah
- 7. Banjir di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
1. Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Garut, Jawa Barat
Pada Minggu, 23 Februari 2025, hujan deras yang terjadi pada pukul 17.30 WIB menyebabkan tanah longsor di beberapa wilayah Kabupaten Garut. Dampaknya cukup signifikan di tiga kecamatan, yaitu Bungbulang, Pameungpeuk, dan Peundeuy. Tanah longsor menyebabkan kerusakan infrastruktur, serta korban jiwa, dengan satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya terluka ringan.
Kerugian materil yang tercatat termasuk rumah roboh, fasilitas umum rusak, dan akses jalan terputus, menghambat mobilitas warga. BPBD Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Garut telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk segera melakukan evakuasi dan pembersihan material longsor guna memulihkan akses.
2.Banjir di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Hujan deras pada Senin, 24 Februari 2025, menyebabkan Sungai Wanganayam dan Sungai Sigranala meluap, merendam pemukiman warga di Desa Arjawinangun, Kecamatan Arjawinangun. Banjir ini berdampak pada 110 kepala keluarga (KK) atau 330 jiwa, dengan ketinggian air mencapai 60 cm. BPBD Kabupaten Cirebon bersama berbagai instansi terkait sedang melakukan penanganan darurat dan distribusi bantuan, dengan fokus pada sanitasi, air bersih, dan logistik makanan.
3. Banjir di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
Sejak sore hari Senin, 24 Februari 2025, intensitas hujan tinggi menyebabkan anak Sungai Bengawan Solo dan Sungai Jlantah meluap. Banjir merendam tujuh kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, berdampak pada 370 KK dan menyebabkan lebih dari 200 orang mengungsi. BPBD Provinsi Jawa Tengah bersama BPBD Kabupaten Sukoharjo terus melakukan evakuasi dan distribusi bantuan bagi warga yang terdampak.
4. Tanah Longsor di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
Hujan yang terjadi pada Minggu, 23 Februari 2025, menyebabkan tanah longsor di beberapa titik di Kabupaten Boyolali, termasuk di Desa Genting dan Desa Senden. Dampaknya mencakup 12 KK, kerusakan pada 13 rumah, dan lima ruas jalan terhalang longsoran. BPBD Kabupaten Boyolali telah mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertutup, serta melakukan pembersihan material longsoran.
5. Cuaca Ekstrem di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Pada Senin, 24 Februari 2025, hujan deras disertai angin kencang melanda Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Cuaca ekstrem ini menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah, fasilitas umum, dan pabrik briket. Sebanyak 60 KK atau 178 jiwa terdampak, dengan satu keluarga terpaksa mengungsi. BPBD Kabupaten Klaten segera melakukan pembersihan pohon tumbang dan pemulihan jaringan listrik yang terdampak.
6. Banjir di Kota Surakarta, Jawa Tengah
Pada Selasa, 25 Februari 2025, Sungai Bengawan Solo meluap dan merendam permukiman warga di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres, Surakarta. Sekitar 163 KK atau 315 jiwa terdampak, dengan genangan air mencapai 120 cm. BPBD Kota Surakarta bersama relawan dan pihak terkait terus mendistribusikan bantuan logistik serta membuka rumah pompa untuk mempercepat penyusutan genangan air.
7. Banjir di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
Pada Minggu, 23 Februari 2025, Sungai Dermo meluap di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Banjir ini mempengaruhi 201 KK atau sekitar 824 jiwa, dengan ketinggian genangan air antara 10 hingga 50 cm. BPBD Kabupaten Pasuruan terus memantau debit air dan mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan.
BNPB mengingatkan masyarakat di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan, terutama di wilayah yang mengalami curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil. Koordinasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat setempat sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan dan mengurangi dampak bencana.