Fenomena aliran banjir yang tampak “melompat” dan berjejer di Kota Padang sempat menghebohkan media sosial. Video yang beredar luas itu memperlihatkan arus air banjir yang bergerak tidak biasa, menyerupai loncatan-loncatan berulang, sehingga memicu berbagai spekulasi di kalangan warganet.
Unggahan tersebut disebut direkam di kawasan Pemandian Lubuk Minturun pada Jumat (2/1/2026). Salah satu akun menuliskan, “Pemandian Lubuk Minturun Padang pada Jumat, 2 Januari 2026. Ya Allah, pertanda apakah ini?”
Unggahan itu viral pada Sabtu (3/1/2026) dan memunculkan pertanyaan publik terkait kemungkinan adanya fenomena alam tertentu atau bahkan pertanda supranatural.
BMKG: Dipicu Curah Hujan Ekstrem
Menanggapi hal tersebut, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Guswanto, memastikan bahwa banjir di Padang memang terjadi akibat curah hujan ekstrem.
“Sesuai data kami, pada Jumat 2 Januari 2026 terjadi banjir di sejumlah wilayah Kota Padang akibat hujan berintensitas sangat tinggi yang mengguyur sejak Kamis malam hingga Jumat sore,” ujar Guswanto saat dihubungi Kompas com pada Senin (5/1/2026).
Banjir dilaporkan melanda berbagai titik, antara lain Kuranji, Tabing Banda Gadang, Dadok Tunggul Hitam, Batu Busuk, hingga kawasan Tunggulhitam. Hujan deras menyebabkan Sungai Batang Kuranji dan sejumlah sungai lain meluap.
“Dampaknya, akses jalan utama sempat lumpuh dengan ketinggian genangan mencapai 40–50 sentimeter di beberapa ruas. Proses evakuasi warga dilakukan menggunakan perahu karet,” jelasnya.
BMKG sebelumnya juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat disertai angin kencang di wilayah Sumatera Barat hingga 4 Januari 2026.
Penjelasan Ilmiah Fenomena Air ‘Melompat’
Terkait fenomena aliran air yang tampak berjejer dan seolah melompat, Guswanto menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan efek hidrodinamika aliran banjir, bukan fenomena supranatural.
“Air banjir yang bergerak sangat deras di permukaan datar atau sedikit miring dapat membentuk gelombang berulang, seperti hydraulic jump atau standing waves. Inilah yang membuat aliran terlihat seperti melompat-lompat,” terangnya.
Secara hidrologi, hydraulic jump atau loncatan hidrolik terjadi ketika aliran air deras dari hulu bertemu permukaan yang lebih datar atau menghadapi hambatan. Kondisi ini mengubah energi kinetik air menjadi turbulensi yang tampak sebagai loncatan berulang.
Sementara itu, standing waves muncul ketika arus deras melewati kontur tertentu, seperti jalan miring atau undakan kecil, sehingga membentuk pola gelombang tetap yang terlihat berjejer.
“Debit air yang sangat besar menciptakan pola gelombang berulang yang bagi mata awam tampak aneh. Ini murni fenomena fisika aliran air saat hujan ekstrem,” tegas Guswanto.
Tidak Berbahaya, Namun Perlu Diwaspadai
BMKG menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak berbahaya jika hanya berupa gelombang permukaan. Namun, kemunculannya menjadi indikator kuat bahwa arus banjir sangat deras dan berpotensi membahayakan keselamatan warga.
“Kondisi ini menegaskan bahwa banjir di Padang dipicu oleh lonjakan debit air secara mendadak akibat hujan ekstrem,” kata Guswanto. Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat pola hujan intens di Sumatera Barat masih berpotensi berulang dalam waktu dekat.
