Di tengah debu reruntuhan akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, sebuah “senjata” baru meledak di jagat maya: Disinformasi AI. Hanya dalam hitungan jam, sebuah foto yang diklaim sebagai jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang ditarik dari puing-puing bangunan, menyebar bak api di padang ilalang.
Sebelum para pemeriksa fakta sempat berkedip, gambar tersebut telah meraup lebih dari empat juta tayangan di platform X. Namun, di balik drama visual yang mencekam tersebut, tersembunyi sebuah kebohongan digital yang canggih.
Sidik Jari Digital: Watermark yang Tak Terlihat
Penyelidikan mendalam oleh organisasi Lead Stories dan media Italia Open berhasil membongkar kedok foto tersebut. Menggunakan alat deteksi canggih, terungkap adanya SynthID—sebuah watermark digital tak kasat mata yang tertanam dalam piksel gambar.
Tanda tangan ini mengonfirmasi satu hal: gambar tersebut sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan milik Google.
Bahkan, alat deteksi Hive Moderation menunjukkan kecocokan 64,1% dengan model Gemini 3. Selain bukti digital, kegagalan logika fisik juga terlihat jelas; salah satu sosok dalam foto tampak memiliki enam jari, sebuah “cacat produksi” yang sering ditemukan pada karya seni AI.
Pencarian gambar terbalik yang dibatasi pada situs web dengan kode negara “.ir” Iran tidak mengembalikan hasil apa pun, mengonfirmasi bahwa tidak ada media berita Iran atau akun resmi yang mempublikasikan foto tersebut. Tidak ada organisasi berita internasional yang kredibel yang melaporkan gambar tersebut juga.
Tak berhenti di situ, hoaks kedua menyusul. Sebuah foto yang memperlihatkan Khamenei terbaring di tempat tidur rumah sakit viral dengan 400.000 tayangan. Namun, jurnalis The Quint berhasil melacak jejaknya ke bulan September 2014.
Foto itu aslinya adalah momen saat Khamenei menjalani pemulihan operasi prostat di RS Baqiyatallah, satu dekade sebelum perang ini meletus.
Ironisnya, media negara Iran memang telah mengonfirmasi kematian Khamenei pada 1 Maret 2026 akibat serangan di kediamannya. Namun, para pakar mengingatkan: Konfirmasi sebuah peristiwa nyata tidak mevalidasi bukti yang direkayasa.
Di era perang digital ini, garis antara kebenaran dan fiksi bisa lenyap hanya dalam satu kali klik share. Gambar-gambar sintetis ini bukan sekadar konten palsu, melainkan alat sabotase informasi yang mampu memicu kepanikan massal di tengah situasi yang sudah kacau.