Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini, setelah mencatatkan kinerja terburuk di antara indeks saham global. Hingga Februari 2026, IHSG terkoreksi tajam 8,23% secara year-to-date (YtD), menempatkan Indonesia di posisi paling buncit dari 35 bursa dunia yang dipantau. Capaian tersebut kontras dengan Thailand, yang justru membukukan kenaikan 7,49% pada periode yang sama.
Tekanan terhadap IHSG dipicu oleh rangkaian sentimen negatif dari lembaga keuangan dan pemeringkat global. Goldman Sachs pada akhir Januari 2026 menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, disertai proyeksi potensi arus keluar dana pasif hingga US$7,8 miliar akibat kekhawatiran terkait posisi Indonesia di indeks MSCI. Langkah serupa juga diambil UBS, yang memangkas peringkat saham domestik menjadi netral.
Outlook Indonesia Dipangkas Moody’s
Sentimen negatif semakin menguat setelah Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis, 5 Februari 2026, meskipun tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2 atau layak investasi.
Moody’s menilai terjadi penurunan prediktabilitas kebijakan serta melemahnya efektivitas tata kelola pemerintahan.
“Jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun berisiko tergerus,” tulis Moody’s dalam pernyataannya.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai bahwa pemangkasan outlook tersebut menjadi salah satu sumber tekanan utama pasar, meskipun status utang Indonesia masih berada di level investment grade.
Kekhawatiran MSCI soal Free Float dan Transparansi
Akar tekanan pasar juga bersumber dari keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks pada Februari 2026. Langkah tersebut diambil menyusul kekhawatiran terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia.
MSCI bahkan membuka kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (Emerging Market) menjadi Frontier Market apabila perbaikan signifikan tidak tercapai hingga Mei 2026.
Menanggapi isu tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyampaikan tiga proposal perbaikan transparansi kepada MSCI.
Usulan tersebut mencakup pembukaan data kepemilikan saham hingga batas 1%, serta rencana peningkatan ketentuan free float dari 7,5% menjadi 15%. Implementasi pembukaan data kepemilikan saham telah mulai diberlakukan sejak 3 Februari 2026.
Aksi Jual Asing Masih Berlanjut
Pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, IHSG ditutup melemah 2,08% ke level 7.935,26. Sepanjang pekan pertama Februari, indeks ambles 4,73%, seiring aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,14 triliun, menandai tiga pekan berturut-turut net sell.
Korea Investment & Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah di kisaran 7.980–8.020.
Tekanan diperkirakan datang dari berlanjutnya arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp16.900 per dolar AS, serta koreksi harga komoditas energi.
