Industri kopi Indonesia kian menunjukkan taringnya di panggung internasional. Bukan sekadar komoditas konsumsi domestik, kopi hasil bumi Nusantara kini telah menjadi bagian krusial dalam rantai pasok kopi global menurut laporan International Coffee Organization (ICO).
Menurut Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, kekuatan ini didukung oleh letak geografis Indonesia yang memiliki tanah vulkanik subur, menghasilkan cita rasa unik yang tidak ditemukan di negara produsen lain. Sejarah panjang budidaya sejak abad ke-17 pun menjadi fondasi kuat bagi lebih dari satu juta petani kopi di Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
“Kopi Gayo dari Aceh, Toraja dari Sulawesi Selatan, Kintamani dari Bali, hingga Java Preanger dari Jawa Barat memiliki karakter rasa yang khas dan telah memiliki perlindungan indikasi geografis, yang berarti kualitas serta asal-usulnya diakui secara resmi,” kata Sudaryono dikutip akun media sosialnya, Selasa (3/2/2026).
Ia juga menyoroti data statistik yang menempatkan Indonesia di posisi elite produsen dunia. Data dari Food and Agriculture Organization atau FAO mencatat, Indonesia secara konsisten masuk dalam lima besar produsen kopi global.
“Produksi kopi nasional mencapai ratusan ribu ton setiap tahun dan diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, hingga Timur Tengah,” ungkap Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu.
Keberhasilan ekspor ini tidak lepas dari kualitas premium yang ditawarkan. Indonesia saat ini menyandang status sebagai salah satu produsen Robusta terbesar. Di lini Arabika, beberapa varietas bahkan telah mendapatkan sertifikasi perlindungan Indikasi Geografis (IG), yang menjamin keaslian asal-usul dan standar kualitasnya.
Meskipun banyak orang masih sering membandingkan dengan kopi asal Brasil atau Kolombia, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kopi Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang setara. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk lebih percaya diri dalam mempromosikan produk lokal.
”Kita memiliki kualitas, sejarah, dan pasar global yang kuat. Yang kita butuhkan hanyalah rasa percaya diri untuk terus membawa nama Nusantara semakin tinggi di panggung dunia,” pungkasnya.