JAKARTA – Gejala batuk kering, pilek bandel, hingga demam ringan yang tak kunjung reda menjadi topik hangat di kalangan warganet belakangan ini.
Ribuan unggahan di platform seperti Twitter dan Instagram menunjukkan kekhawatiran serupa hidung meler tak terkendali, tenggorokan gatal mengganggu, dan rasa lelah yang berkepanjangan.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar—apakah ini sekadar flu musiman atau tanda kembalinya gelombang COVID-19?
Menurut data kesehatan terbaru, peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas memang terdeteksi, meski mayoritas penderita enggan menjalani tes PCR untuk konfirmasi.
Guru Besar Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dari Universitas Indonesia (UI), Erlina Burhan memberikan penjelasan mendalam atas tren ini.
Beliau menekankan bahwa gejala yang dialami banyak orang memang mirip dengan infeksi virus pernapasan, termasuk COVID-19, tetapi sering kali diabaikan tanpa pemeriksaan lanjutan.
“Dari data yang terbatas memang terjadi peningkatan keduanya (flu-COVID),” ucap Erlina
Penyebab Utama: Cuaca Ekstrem dan Penurunan Imun
Erlina menduga, lonjakan keluhan ini dipicu oleh perubahan cuaca yang tak menentu, khususnya saat memasuki musim pancaroba atau hujan deras.
Kondisi seperti ini tidak hanya memudahkan virus menyebar melalui udara lembap, tetapi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.
“Virus lebih mudah berkembang biak di lingkungan yang lembap, sementara fluktuasi suhu membuat tubuh rentan terhadap infeksi,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh dr. Agus Susanto, spesialis paru dari rumah sakit ternama di Jakarta. Ia mengonfirmasi bahwa kunjungan pasien dengan gejala influenza melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.
“Ya, kalau virus influenza banyak kasus saat ini,” ungkapnya.
Data dari Kementerian Kesehatan RI juga mendukung temuan ini. Pada September 2025, laporan surveillance menunjukkan kenaikan 15–20% kasus acute respiratory infection (ARI) dibandingkan bulan sebelumnya, terutama di wilayah urban seperti Jakarta dan Bali. Faktor urbanisasi, polusi udara, dan mobilitas tinggi turut memperburuk situasi, membuat penyebaran virus semakin cepat.
Tips Pencegahan: Kembali ke Protokol Kesehatan Dasar
Di tengah kekhawatiran ini, Erlina menekankan pentingnya kewaspadaan dini. Ia merekomendasikan penerapan protokol kesehatan sederhana namun efektif untuk meminimalkan risiko.
“Pakai masker di tempat ramai, cuci tangan secara rutin dengan sabun, dan jaga jarak fisik tetap relevan,” sarannya.
Selain itu, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan vaksinasi booster COVID-19 atau flu musiman disarankan bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Jika gejala berlangsung lebih dari tiga hari atau disertai sesak napas, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat. Tes antigen cepat bisa menjadi langkah awal untuk membedakan antara flu biasa dan varian COVID yang lebih serius.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pentingnya kesadaran kolektif terhadap kesehatan pernapasan. Dengan musim hujan yang semakin dekat, langkah preventif kini menjadi kunci untuk menghindari beban sistem kesehatan nasional.