JAKARTA — Wacana penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan kian menguat sebagai respons atas tekanan ekonomi global yang dipicu konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi tersebut dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada perekonomian Indonesia.
Kalangan dunia usaha mendorong skema paling efektif, yakni penerapan WFH setiap hari Jumat. Pola ini dinilai mampu menciptakan jeda aktivitas selama tiga hari berturut-turut, yang berimbas pada penurunan konsumsi energi dan aktivitas ekonomi berbasis mobilitas.
Saat ini, konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar 600 ribu barel. Ketimpangan ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak global, terutama dari sisi beban impor dan subsidi energi dalam APBN.
Dalam konteks tersebut, kebijakan WFH dinilai sebagai langkah cepat yang tidak memerlukan intervensi fiskal besar, namun berpotensi signifikan dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Dengan berkurangnya mobilitas pada hari Jumat yang terhubung dengan akhir pekan, efisiensi energi diperkirakan meningkat. Jika terjadi penurunan mobilitas hingga 20 persen dalam satu hari kerja, maka penghematan konsumsi BBM dapat berdampak luas, mulai dari menekan impor hingga menjaga stabilitas anggaran negara.
Namun demikian, kebijakan ini juga diperkirakan membawa konsekuensi terhadap sejumlah sektor. Aktivitas transportasi, pengemudi ojek online, hingga pelaku UMKM di kawasan perkantoran berpotensi mengalami perlambatan pada hari tersebut.
Sebaliknya, sektor digital dan layanan berbasis rumah diprediksi akan mengalami peningkatan, seiring perubahan pola kerja dan konsumsi masyarakat.
Tak hanya itu, pola tiga hari tanpa kehadiran fisik di kantor juga membuka peluang meningkatnya aktivitas pariwisata dan perjalanan antarkota. Kondisi ini dinilai perlu diantisipasi agar tidak berubah menjadi fenomena “libur panjang terselubung” yang justru berpotensi meningkatkan mobilitas dan konsumsi BBM.
Ketua Harian Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Aceh yang juga pengurus pusat Kadin Indonesia, Mahfudz Y Loethan, menilai kebijakan ini sebagai langkah adaptif yang relevan di tengah tekanan global.
“WFH Jumat ini bisa menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi energi dan menjaga stabilitas ekonomi. Tapi harus diantisipasi agar tidak berubah menjadi long weekend yang justru meningkatkan mobilitas,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan, kebijakan tersebut juga memberikan nilai tambah dari sisi sosial dan keagamaan, khususnya bagi umat Muslim.
“Bagi umat Muslim, WFH di hari Jumat memberi ruang untuk memaksimalkan ibadah dengan lebih tenang tanpa tekanan mobilitas. Ini menjadi nilai positif, selama tetap dijalankan dengan tanggung jawab,” kata Mahfudz.
Alumni Lemhannas itu menegaskan, keberhasilan implementasi kebijakan ini sangat bergantung pada kedisiplinan dan pengawasan di lapangan.
“Jangan sampai niatnya menghemat energi, tapi di lapangan justru terjadi pemborosan baru. Ini harus dijaga agar tetap on track,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung, skema WFH pada hari Jumat mulai dilirik sebagai salah satu instrumen cepat untuk meredam dampak eksternal terhadap ekonomi nasional, dengan catatan pelaksanaannya dilakukan secara terukur dan terkendali.