JAKARTA – Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan akses terhadap pangan di Jalur Gaza mengalami peningkatan signifikan sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober. Meski demikian, warga sipil masih harus bertahan dalam kondisi kehidupan yang sangat buruk di wilayah yang terkepung.
“Penting untuk saya sampaikan bahwa dari Program Pangan Dunia, kami dapat mengonfirmasi akses pangan memang telah meningkat secara signifikan,” ujar Antoine Renard, perwakilan WFP untuk Palestina, dalam konferensi pers virtual yand dilansir dari Anadolu, Selasa (23/12/2025).
Renard menegaskan operasi WFP kini sepenuhnya berjalan di lapangan.
“Saat ini, seluruh jaringan distribusi Program Pangan Dunia sudah beroperasi. Kami berhasil menjangkau lebih dari satu juta orang dengan paket bantuan pangan langsung dan tepung gandum,” katanya.
Ia juga mencatat adanya peningkatan arus bantuan dan distribusi pangan komersial yang kini lebih lancar. Sambil menunggu rilis terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC), Renard menyebut rata-rata masyarakat Gaza kini bisa mengonsumsi dua kali makan per hari, sebuah perubahan besar dibanding sebelumnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa akses pangan saja tidak cukup. Kondisi kehidupan warga Gaza masih memprihatinkan, terutama karena minimnya fasilitas memasak yang aman.
“Hingga saat ini, hampir 90 persen sarana memasak yang tersedia hanyalah sampah dan kayu bakar,” ujarnya.
Renard turut membagikan kisah dari lapangan, termasuk seorang perempuan yang kehilangan saudaranya saat mencari kayu bakar terlalu dekat dengan “garis kuning” — zona penarikan pertama dalam perjanjian gencatan senjata yang memisahkan wilayah di bawah kendali Israel dengan area yang bisa diakses warga Palestina.
Meski gencatan senjata telah berlaku dua bulan, kondisi kehidupan di Gaza belum banyak membaik. Israel masih memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya truk bantuan, yang dinilai melanggar protokol kemanusiaan dalam kesepakatan.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 70.000 orang — sebagian besar perempuan dan anak-anak — serta melukai lebih dari 171.000 lainnya.