JAKARTA – Nahdlatul Ulama (NU) menggelar muktamar pertamanya di Surabaya, Jawa Timur, pada 21 Oktober 1926. Forum tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan organisasi Islam yang berdiri pada masa kolonial Belanda itu.
Mengutip NU Online, muktamar pertama NU diselenggarakan di Hotel Muslimin, kawasan Peneleh, Surabaya. Saat itu, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan NU secara lebih luas kepada masyarakat Nusantara yang masih berada di bawah pemerintahan kolonial.
NU Dibentuk pada 1926
Nahdlatul Ulama didirikan pada Januari 1926 oleh para ulama yang memiliki perhatian terhadap kehidupan keagamaan dan pendidikan Islam di Indonesia. KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai Rais Akbar NU pada masa awal organisasi tersebut.
Pembentukan NU menjadi bagian dari perkembangan organisasi keagamaan dan gerakan masyarakat pada awal abad ke-20. Melalui organisasi ini, para ulama membangun wadah bersama untuk membahas persoalan keagamaan sekaligus memperkuat jaringan pesantren.
Setelah berdiri, NU mulai melakukan konsolidasi dengan melibatkan para ulama dari berbagai daerah. Muktamar menjadi forum untuk mempertemukan pengurus dan ulama guna membahas persoalan yang dihadapi umat Islam saat itu.
Membahas Berbagai Persoalan Keagamaan
Dalam muktamar pertama, peserta membahas sejumlah persoalan keagamaan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Pembahasan tersebut kemudian menghasilkan keputusan yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan pemikiran hukum Islam di lingkungan NU.
Sejumlah persoalan yang dibahas antara lain hukum mengikuti mazhab, zakat untuk pembangunan masjid, persoalan harta bersama suami dan istri, hingga berbagai praktik ibadah dan kehidupan sosial.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa muktamar tidak hanya menjadi pertemuan organisasi, tetapi juga ruang musyawarah untuk merespons persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Surabaya Menjadi Pusat Muktamar NU pada Masa Awal
Surabaya menjadi lokasi penyelenggaraan tiga muktamar pertama NU pada periode 1926 hingga 1928. Kota tersebut juga menjadi tempat berdirinya kantor pusat awal NU, yang pada masa itu dikenal dengan nama Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO).
Dalam perkembangannya, muktamar NU kemudian diselenggarakan di berbagai kota. Forum tersebut menjadi sarana evaluasi organisasi, pembahasan program, serta penentuan arah kepemimpinan dan persoalan keagamaan.
Hingga kini, muktamar tetap menjadi forum permusyawaratan tertinggi NU. Sejarah muktamar pertama pada 1926 menunjukkan bagaimana organisasi tersebut mulai membangun struktur dan memperluas jangkauan gerakannya di tengah situasi Indonesia pada masa kolonial.