JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan teknik penyemaian es kering atau dry ice untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan. Metode ini menyasar lapisan inversi atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan bumi, terutama ketika awan potensial pembentuk hujan terbatas.
Operasi tersebut melibatkan tim gabungan lintas lembaga, yakni TNI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Kementerian Pertahanan (Kemenhan), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, penggunaan dry ice menjadi salah satu pendekatan untuk mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat pergerakan asap. Dalam situasi karhutla ekstrem, asap dapat menumpuk pada lapisan atmosfer di ketinggian sekitar 6.000 hingga 7.000 kaki, bahkan lebih tinggi, sehingga sulit terurai secara alami.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena inversi atmosfer. Lapisan ini menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap tertahan dan terkonsentrasi di wilayah terdampak.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pesawat dalam operasi modifikasi cuaca menyebarkan *dry ice* secara terarah di atas lapisan inversi. Proses sublimasi es kering memicu pendinginan yang ditujukan untuk mengubah kondisi atmosfer dan membuka peluang terjadinya kembali pergerakan udara secara vertikal.
“Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC,” ujar Seto dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Menurut Seto, pendekatan menggunakan dry ice memiliki sasaran berbeda dari penyemaian awan konvensional yang umumnya ditujukan untuk meningkatkan peluang hujan. Dalam operasi ini, intervensi difokuskan pada lapisan inversi yang menghambat penyebaran asap serta lapisan isoterm untuk mengubah stabilitas udara di atmosfer bagian atas.
Strategi tersebut menjadi salah satu pilihan ketika kondisi atmosfer relatif kering dan pembentukan awan potensial hujan terbatas. Dengan demikian, upaya penanganan tidak hanya bergantung pada ketersediaan awan untuk penyemaian hujan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi atmosfer yang memengaruhi pergerakan polutan.
Jarak Pandang di Palembang Mulai Membaik
BMKG mengevaluasi dampak operasi penyemaian *dry ice* melalui sejumlah indikator, terutama perubahan jarak pandang di permukaan dan konsentrasi partikel polutan halus PM2.5. Pemantauan dilakukan secara ketat, khususnya di kawasan permukiman dan objek vital nasional, termasuk bandara.
Evaluasi sementara selama beberapa hari pelaksanaan menunjukkan indikasi perbaikan jarak pandang di sejumlah wilayah terdampak. Palembang menjadi salah satu daerah yang dilaporkan mengalami peningkatan jarak pandang setelah intervensi melalui operasi udara.
“Dalam beberapa hari pelaksanaan, intervensi dry ice menunjukkan indikasi dampak yang cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti yang sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu,” kata Seto.
Ia menjelaskan, perbaikan jarak pandang diperlukan untuk mendukung kegiatan satuan tugas udara dalam menangani karhutla. Kondisi tersebut turut menunjang operasional helikopter pemadaman menggunakan teknik pengeboman air atau water bombing serta pesawat patroli yang bertugas memantau titik api.
Selain mendukung penanganan karhutla, peningkatan jarak pandang juga menjadi faktor penting bagi keselamatan penerbangan sipil. Namun, aktivitas penerbangan tetap harus mengikuti ketentuan keselamatan dan kondisi aktual di lapangan.
Meski menunjukkan indikasi positif, BMKG menegaskan efektivitas intervensi atmosfer tidak terlepas dari dinamika cuaca dan sebaran titik api. Karena itu, hasil operasi perlu terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer serta indikator kualitas udara di wilayah terdampak.
Penanganan Karhutla Tetap Membutuhkan Operasi Darat
BMKG menekankan bahwa penggunaan dry ice dalam OMC bukan satu-satunya langkah untuk mengatasi karhutla. Operasi modifikasi cuaca harus berjalan beriringan dengan pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dan organisasi nonpemerintah atau NGO.
Dalam operasi gabungan tersebut, BMKG bertugas menyusun strategi intervensi atmosfer berdasarkan analisis meteorologi. TNI bersama Kemenhan mendukung penyediaan dan pengerahan armada penerbangan, sedangkan BNPB mengoordinasikan penanganan bencana.
Sementara itu, Kemenhut berperan dalam upaya pemadaman di darat. BRIN memberikan dukungan melalui kajian ilmiah dan riset teknologi untuk memperkuat pendekatan penanganan karhutla.
Pembagian tugas tersebut ditujukan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara terpadu, mulai dari intervensi kondisi atmosfer hingga pemadaman sumber api di lapangan. Penguraian kabut asap menjadi salah satu bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi dampak karhutla terhadap masyarakat dan aktivitas transportasi.
“OMC bukan satu-satunya upaya untuk menanggulangi karhutla. Pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta gerakan sukarela masyarakat dan NGO juga memegang peranan penting. Semua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu mengakhiri karhutla secepat mungkin. Karena itu, setiap upaya harus berjalan selaras, saling mendukung, dan berkesinambungan,” pungkas Seto.