Sebuah insiden mengerikan melanda kawasan perkantoran di Jalan Letjen Suprapto No. 17, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, sore ini. Kebakaran hebat yang diduga dipicu ledakan baterai drone di lantai dasar gedung tujuh lantai milik PT Terra Drone Indonesia telah merenggut nyawa setidaknya 22 orang.
Kronologi Ledakan yang Mengubah Kantor Jadi Jebakan Maut
Kebakaran bermula sekitar pukul 12.40–12.50 WIB, tepat saat jam istirahat makan siang. Menurut Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, api pertama kali muncul di lantai 1, di mana gudang penyimpanan baterai drone terletak. Seorang karyawan bernama Dimitri, yang berhasil dievakuasi, menceritakan ledakan keras yang mengguncang gedung sebelum api menyambar.
“Dugaan korsleting atau kegagalan termal pada baterai drone yang memicu ledakan serta kebakaran,” ujarnya, seperti dikutip dari laporan awal di lokasi.
Dalam hitungan menit, api dan asap pekat menyebar ke lantai 2 hingga 6, memenuhi koridor dan ruang kerja. Beberapa karyawan yang sedang makan siang di kantin lantai bawah berhasil kabur, tapi yang berada di lantai atas terperangkap.
“Api semakin membesar, asap naik ke lantai 6,” tambah Susatyo, menggambarkan bagaimana asap beracun membuat korban kehabisan oksigen sebelum terbakar. Evakuasi dramatis dilakukan dari lantai 7 menggunakan tangga darurat dan tali, dengan petugas Brimob Polda Metro Jaya mengerahkan 20 personel untuk mengamankan area dan jalur keluar.
Hingga pukul 15.30 WIB, api berhasil dipadamkan, tapi proses penyisiran masih berlangsung untuk memastikan tidak ada korban tersisa.
Korban yang Lebih Banyak Tewas Karena Asap, Bukan Api
Dari 22 korban jiwa yang dikonfirmasi hingga pukul 17.00 WIB, mayoritas adalah perempuan—15 orang—termasuk seorang ibu hamil yang tragisnya menjadi salah satu korban. Rincian sementara: 7 laki-laki dan 15 perempuan, dengan jenazah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk identifikasi dan autopsi.
Menurut Susatyo, sebagian besar korban tidak mengalami luka bakar parah, melainkan ditemukan dalam kondisi lemas akibat menghirup asap beracun yang mengurangi kadar oksigen di udara. “Korban-korban yang kami lihat tidak dalam luka bakar tapi lemas,” katanya, menekankan betapa mematikannya asap di ruang tertutup.
Posko antemortem (sebelum kematian) dibuka di RS Polri untuk mendata keluarga yang kehilangan anggota. Kepala RS Polri, Brigjen Pol Prima Heru Yulihartono, meminta keluarga membawa foto korban, data gigi, sidik jari, atau catatan medis untuk mempercepat proses.
“Tanpa data pembanding, identifikasi berpotensi lebih lama,” ujarnya. Beberapa keluarga sudah berdatangan, membawa dokumen sambil menahan tangis di ruang DVI (Disaster Victim Investigation).