JAKARTA — Nama Soerjadi Soerjadarma mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh militer lainnya, namun jasanya dalam membangun kekuatan udara Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dialah sosok yang meletakkan pondasi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga menjadi salah satu yang disegani di kawasan Asia.
Berikut lima fakta tentang Bapak AURI:
1. Pernah Dibatasi Belanda untuk Menjadi Penerbang
Soerjadi Soerjadarma lahir di Banyuwangi pada 6 Desember 1912. Ia menempuh pendidikan militer bergengsi di Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda, Belanda, dan dilantik menjadi Letnan Dua pada 1934. Meski berhasil menyelesaikan sekolah penerbang di Kalijati, pemerintah kolonial Belanda saat itu menerapkan kebijakan diskriminatif yang melarang pribumi menjadi penerbang. Akibatnya, Soerjadarma hanya diizinkan menyandang brevet navigator, bukan brevet pilot.
2. Dipercaya Soekarno Membangun Angkatan Udara dari Nol
Setelah proklamasi kemerdekaan, Mayor Jenderal Urip Sumohardjo memanggil Soerjadarma dengan satu misi besar: membangun angkatan udara yang benar-benar mandiri. Kepercayaan itu terbukti ketika pada 9 April 1946, Presiden Soekarno secara resmi mengangkatnya sebagai Kepala Staf TRI Angkatan Udara pertama dengan pangkat Komodor Udara. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Angkatan Udara Republik Indonesia.
3. Memimpin Serangan Udara Berani ke Markas Belanda
Di bawah komandonya, AURI melancarkan sejumlah operasi militer yang bersejarah. Salah satu yang paling dikenang adalah serangan udara ke markas Belanda pada 29 Juli 1947, yang dilancarkan hanya berselang sehari setelah Agresi Militer Belanda I. AURI juga menjalankan operasi penerjunan di Kalimantan sebagai bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia.
4. Menjadikan AURI Salah Satu Angkatan Udara Terkuat di Asia
Kepemimpinan Soerjadarma pada era 1950-an hingga awal 1960-an membawa AURI ke puncak kejayaannya. Melalui kebijakan pengadaan pesawat-pesawat modern, Indonesia berhasil membangun armada udara yang diperhitungkan, bahkan menjadi salah satu kekuatan udara terkuat di belahan bumi selatan dan kawasan Asia Tenggara. Sebuah pencapaian luar biasa mengingat Indonesia baru saja merdeka beberapa tahun sebelumnya.
5. Namanya Diabadikan di Berbagai Tempat Bersejarah
Soerjadi Soerjadarma wafat pada 16 Agustus 1975 dan dimakamkan secara militer di TPU Karet, Jakarta. Sebelum pensiun pada 1968, ia sempat menjabat sebagai penasihat militer presiden dan Menteri Pos dan Telekomunikasi. Warisannya terus hidup melalui berbagai penghormatan: namanya diabadikan sebagai nama Lanud Suryadarma di Kalijati, sejumlah gedung militer, hingga Universitas Suryadarma. Pada tahun 2000, ia resmi dikukuhkan oleh negara sebagai Bapak Angkatan Udara Republik Indonesia.
Soerjadi Soerjadarma adalah bukti nyata bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk menorehkan sejarah besar. Warisannya yang kokoh menjadikan namanya abadi, bukan hanya di lembar sejarah militer, tetapi juga di hati setiap prajurit udara Indonesia. (ACH)