BEIRUT, LEBANON – Hasil penyelidikan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) resmi menyimpulkan bahwa proyektil yang menewaskan Praka Farizal Romadhon, penjaga perdamaian asal Indonesia, ditembakkan oleh tank Merkava milik Israel. Kesimpulan itu diumumkan UNIFIL melalui pernyataan resmi pada Selasa (8/4/2026).
Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan tim sementara PBB, analisis lokasi benturan dan pecahan proyektil menunjukkan bahwa peluru yang mematikan berasal dari persenjataan utama tank kaliber 120 mm.
“Proyektil tersebut ditembakkan oleh tank Merkava Israel dari arah timur menuju Ett Taibe,” tulis UNIFIL dalam pernyataannya.
Insiden tragis itu terjadi pada malam 29 Maret 2026. Sebuah proyektil menghantam posisi UNIFIL di dekat Adchit Al Qusayr, menewaskan Praka Farizal Romadhon seketika dan melukai kritis seorang penjaga perdamaian lainnya.
Kematian prajurit TNI-AD tersebut menjadi sorotan internasional karena terjadi di tengah tugas perdamaian di perbatasan Lebanon–Israel.
UNIFIL menegaskan telah berupaya maksimal mencegah insiden serupa. Koordinat lengkap seluruh posisi dan fasilitas pasukan perdamaian telah diserahkan kepada militer Israel sebanyak dua kali sebelum kejadian.
“Kami telah memberikan koordinat semua posisi dan fasilitasnya kepada militer Israel pada 6 Maret dan sekali lagi pada 22 Maret,” demikian pernyataan resmi UNIFIL.
Meski koordinat telah dibagikan beberapa minggu sebelumnya dengan tujuan mengurangi risiko terhadap personel, serangan tetap terjadi.
UNIFIL kini menyerahkan temuan investigasi ini kepada pihak terkait untuk langkah lebih lanjut, sekaligus menekankan pentingnya perlindungan terhadap pasukan perdamaian internasional yang sedang menjalankan mandat PBB.
Kematian Praka Farizal Romadhon menjadi korban kedua dari pasukan UNIFIL sejak eskalasi konflik di Lebanon meningkat akhir tahun lalu.
Prajurit berpangkat praka itu tergabung dalam kontingen Garuda yang dikenal tangguh dan profesional dalam misi-misi perdamaian PBB.
Sampai berita ini diturunkan, pihak militer Israel belum memberikan tanggapan resmi atas temuan UNIFIL.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Mabes TNI dipastikan akan terus memantau perkembangan kasus ini serta menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban penuh dari pihak yang bertanggung jawab.
Tragedi ini kembali menyoroti kerapuhan keamanan di wilayah perbatasan Lebanon selatan dan tantangan besar yang dihadapi pasukan perdamaian PBB di tengah ketegangan regional yang masih berlangsung.



