PAPUA PEGUNUNGAN — Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz-2026 membantah keras isu yang menyebut AS (41), sopir angkutan umum yang tewas dibakar di Jalan Poros Habema Kilometer 32, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, merupakan anggota intelijen aparat keamanan. Polisi memastikan korban adalah warga sipil yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi angkutan lanjuran.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, menegaskan bahwa narasi yang beredar luas di tengah masyarakat tersebut merupakan informasi bohong alias hoaks. Korban tercatat telah menekuni profesinya mengemudikan angkutan umum trayek Wamena–Mbua selama belasan tahun.
“Kami bisa pastikan bahwa berita yang menyebut sopir lanjuran ini merupakan anggota intel aparat keamanan adalah berita bohong atau hoaks. Sopir tersebut memang bekerja sebagai sopir dan sudah menjalankan pekerjaannya selama sekitar 13 tahun di jalur tersebut,” ujar Yusuf dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Kronologi Penemuan Mobil di Jurang dan Jasad Korban
Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan seorang penumpang yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan tersebut pada Selasa (15/9/2026). Menindaklanjuti laporan itu, tim gabungan yang terdiri atas Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, Polres Jayawijaya, Batalyon B Satbrimobda Papua, dan Satgas Koops TNI Habema langsung bergerak menyisir lokasi kejadian.
Meski sempat terkendala cuaca ekstrem khas wilayah pegunungan, penyisiran tetap berlangsung hingga malam hari. Keberadaan kendaraan korban baru terdeteksi keesokan harinya oleh Satgas Koops TNI Habema di dasar jurang berkedalaman 13 meter.
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas menemukan kondisi jasad korban yang sangat mengenaskan akibat terbakar di dalam kendaraan.
“Pada saat olah TKP, ditemukan jenazah korban dalam kondisi hangus terbakar. Beberapa bagian tubuh korban mengalami karbonisasi. Selain itu, ditemukan satu butir selongsong amunisi laras panjang kaliber 5,56 milimeter serta satu buah tas yang berisi identitas korban,” tutur Yusuf.
Setelah olah TKP selesai, jenazah korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena untuk penanganan medis dan proses identifikasi lebih lanjut.
Aparat Dalami Duga Keterlibatan Kelompok Kodap III Ndugama
Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol Faizal Ramadhani, menyampaikan bahwa penanganan kasus tindak kekerasan terhadap warga sipil ini dilakukan secara terukur dan profesional sejak awal penerimaan informasi.
“Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 bergerak cepat setelah menerima informasi mengenai dugaan kekerasan terhadap masyarakat di wilayah Habema. Kami melakukan langkah penanganan secara profesional dan terukur, mulai dari pencarian, TPTKP, olah TKP, pengamanan barang bukti, hingga evakuasi korban,” jelas Faizal.
Mengenai pelaku penyerangan, indikasi awal mengarah pada kelompok bersenjata yang kerap beroperasi di sekitar lokasi kejadian. Salah satu kelompok yang diselidiki adalah Kodap III Ndugama. Namun, kepolisian menekankan bahwa hal tersebut masih sebatas petunjuk awal yang memerlukan verifikasi mendalam.
“Memang ada informasi yang mengarah kepada kelompok Kodap III Ndugama yang berada di sekitar lokasi, namun informasi tersebut masih harus kami dalami dan verifikasi lebih lanjut,” kata Yusuf menambahkan.
Imbauan Warga dan Peningkatan Pengamanan Jalur Rawan
Menyikapi insiden ini, tim gabungan memperketat penjagaan di sepanjang perlintasan rawan. Masyarakat maupun pengemudi angkutan umum yang hendak melintas diimbau untuk berkoordinasi dan meminta pengawalan dari petugas demi menjamin keselamatan perjalanan.
Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Adarma Sinaga, meminta masyarakat tidak terpancing oleh berbagai spekulasi atau narasi menyesatkan yang sengaja dihembuskan pihak tak bertanggung jawab.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta mengutamakan keselamatan dalam melakukan perjalanan, khususnya di wilayah yang memiliki potensi gangguan keamanan,” tegas Adarma.
Hingga saat ini, tim gabungan masih berada di lapangan untuk memburu para pelaku penyerangan sekaligus membongkar motif di balik aksi pembunuhan tersebut.