JAKARTA — Hari ini, Kamis (19/02/2026) dunia memperingati Hari Anti Plagiarisme Sedunia atau World Anti-Plagiarism Day. Momentum ini semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang memudahkan penyalinan konten tanpa izin. Peringatan tahunan ini mengajak semua kalangan untuk lebih menghargai orisinalitas karya dan menjunjung tinggi etika intelektual.
Berikut lima fakta penting mengenai Hari Anti Plagiarisme Sedunia:
1. Diperingati Setiap Tanggal 19 Februari
Hari Anti Plagiarisme Sedunia secara resmi diperingati setiap tanggal 19 Februari oleh berbagai komunitas akademik internasional, khususnya International Center for Academic Integrity (ICAI). Tanggal ini dipilih sebagai pengingat global akan pentingnya melawan praktik plagiat yang merusak integritas ilmu pengetahuan. Sejak pertama kali digagas, peringatan ini terus menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui kampanye edukasi di sekolah dan perguruan tinggi. Di tahun 2026 ini, banyak institusi pendidikan tanah air menggelar seminar daring untuk menyambut hari tersebut.
2. Berfokus pada Etika dan Kejujuran Akademik
Inti dari Hari Anti Plagiarisme Sedunia adalah penanaman nilai etika serta kejujuran dalam berkarya. Plagiarisme tidak hanya sekadar menyalin teks, tetapi juga mengambil ide, data, atau gambar tanpa memberikan kredit kepada pencipta asli. Peringatan ini mengingatkan bahwa kejujuran intelektual merupakan fondasi utama dalam dunia pendidikan dan profesional. Dengan menjunjung prinsip ini, seseorang dapat membangun reputasi yang kredibel dan menghindari sanksi berat seperti pembatalan gelar atau tuntutan hukum.
3. Relevan bagi Berbagai Kalangan, dari Pelajar hingga Profesional
Isu plagiarisme tidak terbatas pada lingkungan kampus saja. Hari Anti Plagiarisme Sedunia menyoroti bahwa praktik ini juga marak di bidang jurnalisme, riset ilmiah, pembuatan konten digital, hingga industri kreatif. Di Indonesia, beberapa kasus plagiat di media massa dan karya tulis ilmiah pernah menjadi perbincangan hangat publik. Peringatan ini mengajak semua pihak, mulai dari siswa sekolah dasar yang membuat tugas hingga peneliti senior, untuk selalu menjaga keaslian karya mereka.
4. Mendorong Penggunaan Sitasi dan Parafrase yang Benar
Salah satu tujuan utama hari ini adalah edukasi tentang teknik penulisan yang etis. Banyak orang masih salah paham bahwa mengganti beberapa kata sudah cukup untuk menghindari plagiarisme. Padahal, cara yang benar melibatkan pengutipan sumber dengan format standar seperti APA, MLA, atau Chicago, serta penyusunan daftar pustaka yang lengkap. Hari Anti Plagiarisme Sedunia menjadi kesempatan bagi institusi pendidikan untuk mengadakan pelatihan sitasi dan parafrase. Praktik ini tidak hanya mencegah pelanggaran, tetapi juga melatih kemampuan analisis dan berpikir kritis.
5. Selaras dengan Nilai Integritas Ilmu Pengetahuan Global
Semangat Hari Anti Plagiarisme Sedunia sangat sesuai dengan prinsip yang diadvokasi lembaga internasional seperti UNESCO. Organisasi tersebut terus mendorong etika, kebebasan akademik, serta tanggung jawab dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan mendukung peringatan ini, masyarakat global turut menjaga kualitas pengetahuan yang bebas dari pencurian ide atau manipulasi. Di era kecerdasan buatan saat ini, tantangan semakin besar karena tools AI sering disalahgunakan tanpa pengolahan orisinal.