JAKARTA – Gangguan Kepribadian Narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD) merupakan kondisi kesehatan mental serius di mana seseorang memiliki rasa superioritas berlebihan, kebutuhan akan kekaguman terus-menerus, serta kurangnya empati terhadap orang lain.
Meski gejalanya sering terlihat sebagai sikap egois atau arogan, NPD bukan sekadar sifat buruk, melainkan gangguan yang kompleks. Penyebab pasti NPD belum diketahui secara pasti hingga kini. Para ahli psikologi dan psikiater sepakat bahwa kondisi ini muncul dari interaksi rumit antara faktor genetik, biologis, lingkungan, serta pengalaman masa kecil.
Berikut lima faktor utama yang diyakini berkontribusi besar terhadap perkembangan NPD:
1. Helicopter Parenting
Orang tua yang terlalu memuja, memenuhi segala keinginan anak tanpa batas, atau terus-menerus memuji secara berlebihan dapat menumbuhkan ekspektasi tidak realistis. Anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya istimewa dan berhak mendapatkan perlakuan khusus, yang kemudian menjadi dasar sifat narsistik di masa dewasa.
2. Pengalaman Masa Kecil Negatif atau Trauma
Trauma seperti pelecehan fisik, emosional, seksual, penelantaran, pengabaian, atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sering menjadi pemicu. Anak yang mengalami hal ini cenderung membangun pertahanan diri berupa sikap narsistik untuk melindungi diri dari rasa sakit, rendah diri, atau ketakutan akan penolakan.
3. Pola Asuh Terlalu Kritis, Menuntut, atau Dingin
Sebaliknya, orang tua yang terlalu keras, hanya menghargai anak berdasarkan prestasi, sering mengkritik, atau memberikan kasih sayang bersyarat bisa memicu kebutuhan validasi ekstrem. Anak belajar bahwa nilai dirinya bergantung pada pencapaian sempurna, sehingga di kemudian hari muncul rasa superioritas sebagai kompensasi atas rasa tidak aman yang dalam.
4. Faktor Genetik dan Keturunan
Riwayat keluarga dengan NPD, gangguan kepribadian lain, atau kondisi kesehatan mental serupa meningkatkan risiko. Penelitian menunjukkan adanya komponen genetik yang memengaruhi temperamen sensitif, kerentanan emosional, serta struktur otak terkait regulasi emosi dan empati, meski belum ada penanda gen spesifik yang pasti.
5. Lingkungan Sosial dan Budaya yang Menekankan Individualisme Ekstrem
Tumbuh di masyarakat yang sangat mengagungkan penampilan fisik, status sosial, persaingan ketat, serta pencitraan diri (misalnya melalui media sosial) dapat memperkuat sifat narsistik. Budaya yang mendorong “selalu tampil sempurna” membuat seseorang mengembangkan pola pikir superior sebagai respons terhadap tekanan eksternal.
NPD bukanlah kondisi yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi faktor-faktor di atas sejak masa kanak-kanak. Penting untuk diingat bahwa NPD adalah gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan profesional, seperti psikoterapi (terutama terapi perilaku kognitif atau psikodinamik), bukan sekadar “kurang ajar” atau “egois biasa”.
Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala NPD yang mengganggu kehidupan sehari-hari, segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan bantuan yang tepat. Pemahaman dini tentang faktor risiko ini dapat membantu pencegahan dan intervensi lebih awal, terutama dalam pengasuhan anak. (Sumber: Alodokter, Halodoc, Hello Sehat, Mitra Keluarga, dan referensi psikologi terkini)