JAKARTA – Ketahanan pangan nasional kembali menjadi sorotan tajam di tengah dinamika ekonomi global yang tak menentu.
Wignyo Prasetyo, Ketua Umum Masyarakat Pemerhati Pangan (Mappan) Indonesia sekaligus Koordinator Nasional TIM 8 Prabowo, menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Prabowo Subianto mampu menavigasi tantangan ekonomi melalui strategi swasembada pangan yang konsisten dan terarah.
“Memang ada tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pemerintahan Prabowo, tapi saya yakin Prabowo akan melewatinya,” kata Wignyo kepada wartawan, Kamis (22/5/2025).
Menurut Wignyo, arah kebijakan yang ditempuh Prabowo mengindikasikan model demokrasi ekonomi yang inklusif.
Beberapa program prioritas seperti makan bergizi gratis, pembangunan rumah rakyat, dan pemberantasan korupsi menunjukkan tekad kuat pemerintahan dalam membangun fondasi sosial-ekonomi yang kokoh.
Swasembada beras disebutnya sebagai tonggak utama dalam agenda tersebut.
Pilar Kemandirian Nasional
Bagi Wignyo, capaian swasembada bukan sekadar strategi teknis, tetapi merupakan agenda ideologis menuju kemandirian bangsa.
“Swasembada adalah salah satu pilar penting dalam mewujudkan kemandirian nasional,” tegasnya.
Ia menekankan, swasembada mampu menurunkan ketergantungan terhadap impor dan menghindari dampak fluktuasi harga pangan internasional.
Tak hanya itu, dampaknya juga dirasakan langsung oleh petani—yang secara ekonomi akan lebih sejahtera—dan masyarakat luas yang memperoleh akses pangan yang aman, bergizi, dan terjangkau.
Jaminan Stabilitas Sosial dan Ekonomi
Wignyo menggarisbawahi bahwa kemandirian dalam sektor pangan tidak hanya memperkuat ekonomi, namun juga berperan sebagai stabilisator sosial dalam menghadapi potensi gejolak akibat krisis pangan.
“Jadi manfaat swasembada pangan itu bisa menjadikan kemandirian ekonomi karena Mengurangi ketergantungan pada impor dan fluktuasi harga pangan di pasar internasional…,” jelasnya.
Ia melanjutkan, stabilitas sosial dapat dijaga ketika rakyat tidak mengalami tekanan akibat kelangkaan pangan.
Pada saat yang sama, peningkatan kesejahteraan petani mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Kekuatan Strategis Indonesia
Menanggapi tantangan ekonomi global yang kian kompleks, Wignyo menilai Indonesia memiliki bekal kuat untuk melangkah.
Salah satunya adalah kekayaan sumber daya alam dan kondisi geografis yang sangat mendukung.
“Pertama, hal itu karena sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan iklim tropis yang mendukung berbagai jenis tanaman pangan.”
“Ini adalah modal dasar yang kuat untuk mencapai swasembada,” katanya.
Selain itu, keberagaman hayati yang dimiliki negeri ini turut memperkaya opsi pengembangan tanaman pangan lokal.
Indonesia juga memiliki kekuatan lain yang tak kalah strategis: pasar domestik yang besar dan stabil.
“Selanjutnya, Indonesia juga menjadi pasar domestik besar. Populasi Indonesia yang besar menyediakan pasar domestik yang signifikan untuk produk pangan, mengurangi ketergantungan pada ekspor dan impor,” ujar Wignyo.***