JAKARTA – Pacu Jalur, tradisi balap perahu khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, mendadak mencuri perhatian dunia maya usai viral di TikTok lewat fenomena Aura Farming pada Juli 2025.
Fenomena ini membawa kembali ke permukaan kekayaan budaya lokal yang telah berakar sejak abad ke-17, dengan daya tarik utamanya berupa atraksi penari cilik atau anak joki yang menari penuh semangat di ujung perahu panjang saat mengarungi derasnya arus Sungai Batang Kuantan.
Kehadiran sosok anak joki yang berlenggak-lenggok sambil menjaga keseimbangan dengan gerakan tangan khas saat perahu melaju, menjadi magnet visual yang dianggap keren oleh warganet.
Aksi penuh energi ini memicu tren global, bahkan ditiru secara kreatif di luar negeri, seperti Amerika dan Thailand, lengkap dengan lagu pengiring Young Black & Rich dari Melly Mike.
Dalam sekejap, Pacu Jalur tak lagi sekadar tradisi lokal, tetapi simbol budaya yang sukses menembus batas digital.
Festival tahunan Pacu Jalur di Tepian Narosa, Kuansing, yang biasanya berlangsung setiap Agustus, kini semakin diperhitungkan secara internasional.
Lebih dari sekadar olahraga, ajang ini memadukan seni, sejarah, dan budaya dalam satu perhelatan.
Tiga tokoh penting di atas perahu—tukang tari (sumber semangat sekaligus navigator posisi), timbo ruang (komandan irama dayung), dan tukang onjai (pengarah haluan)—menjadi elemen vital yang menambah kekayaan nilai budaya warisan ini, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Tak bisa dimungkiri, pesatnya popularitas Pacu Jalur dalam lanskap digital juga didorong oleh peran para konten kreator lokal, seperti Malayok Team, yang dengan konsistensi dan semangat tinggi terus mempromosikan budaya ini.
Dengan tagar #AuraFarming, konten mereka menembus algoritma global, membangkitkan rasa ingin tahu pengguna dari berbagai belahan dunia, dan bahkan masuk dalam daftar trending di platform internasional.
Dalam sejarahnya, Pacu Jalur bukan hanya olahraga air, tetapi dulunya merupakan alat transportasi utama masyarakat Kuansing, yang kemudian dikembangkan sebagai ajang perayaan hari-hari besar, termasuk ulang tahun Ratu Wilhelmina pada masa penjajahan Belanda.
Kini, tradisi ini resmi masuk dalam program unggulan pariwisata nasional, Kharisma Event Nusantara (KEN), dan menjadi daya tarik tahunan yang mendatangkan ribuan wisatawan domestik hingga mancanegara.
Kendati demikian, beberapa pihak menyampaikan keprihatinan bahwa momentum viral ini seharusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemerintah Provinsi Riau maupun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Tanpa strategi promosi yang tepat, peluang untuk mengangkat Pacu Jalur sebagai ikon pariwisata global bisa terlewat begitu saja.
Padahal, daya tarik visual, nilai sejarah, dan keunikan budaya yang dimiliki Pacu Jalur sudah terbukti mampu bersaing di era digital.
Lebih dari sekadar lomba dayung, Pacu Jalur telah menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Kuansing.
Melalui kreativitas generasi muda dan kekuatan media sosial, warisan budaya ini kembali bersinar, membuktikan bahwa tradisi lokal pun bisa menjangkau dunia dengan narasi yang segar dan penuh semangat.***