JAKARTA – Wacana menghidupkan kembali trem di kawasan Kota Tua Jakarta kembali mencuri perhatian publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengkaji kemungkinan menghadirkan moda transportasi legendaris tersebut sebagai bagian dari revitalisasi kawasan bersejarah sekaligus upaya menciptakan transportasi ramah lingkungan di ibu kota.
Bagi sebagian masyarakat, trem bukan sekadar alat transportasi biasa. Moda ini pernah menjadi simbol modernisasi Batavia pada masa lalu. Kini, ketika Kota Tua terus dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan Jakarta, trem dinilai mampu menghadirkan nuansa historis sekaligus pengalaman wisata yang unik.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menjadi salah satu tokoh yang mendorong pengkajian proyek tersebut. Ia menyebut trem dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi kendaraan di kawasan Kota Tua yang saat ini diarahkan sebagai kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone.
Menurut Rano, kehadiran trem tidak hanya berfungsi sebagai transportasi wisata, tetapi juga menjadi pengingat sejarah panjang Jakarta sebagai kota yang pernah memiliki jaringan trem aktif sejak era kolonial. Ia bahkan mengaku masih sempat merasakan naik trem saat kecil di kawasan Jakarta tempo dulu.
Jejak Trem di Batavia
Sejarah trem di Jakarta sudah dimulai sejak abad ke-19. Pada 1869, Batavia memiliki trem kuda yang digunakan sebagai sarana transportasi masyarakat. Seiring perkembangan teknologi, trem kemudian beralih menggunakan tenaga uap dan akhirnya listrik. Jalur trem pada masa itu menghubungkan sejumlah kawasan penting seperti Pasar Baru, Harmoni, hingga Kota Tua.
Trem listrik kemudian menjadi salah satu moda transportasi favorit warga Batavia karena dianggap modern dan mampu mengangkut banyak penumpang. Namun, keberadaan trem perlahan menghilang setelah pemerintah lebih memilih pengembangan transportasi berbasis jalan raya seperti bus dan kendaraan pribadi.
Kini, lebih dari setengah abad setelah jalur trem terakhir berhenti beroperasi, gagasan menghadirkannya kembali muncul di tengah semangat revitalisasi kawasan bersejarah Jakarta.
Bagian dari Revitalisasi Kota Tua
Rencana pengoperasian trem disebut menjadi bagian dari penataan besar kawasan Kota Tua Jakarta. Pemerintah daerah ingin menjadikan area tersebut sebagai destinasi wisata sejarah yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan wisatawan.
Selain menghidupkan nuansa klasik Batavia, trem juga dinilai dapat memperkuat identitas Kota Tua sebagai ikon wisata Jakarta. Konsep transportasi berbasis rel dengan desain klasik diyakini mampu menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tengah menyiapkan integrasi berbagai moda transportasi menuju Kota Tua, termasuk MRT fase 2 yang nantinya terhubung hingga kawasan tersebut. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan pembangunan trem masih berada dalam tahap kajian karena pemerintah saat ini memprioritaskan penyelesaian proyek MRT Lebak Bulus-Kota yang ditargetkan selesai pada 2029.
Pramono menilai integrasi transportasi publik menjadi faktor penting untuk menghidupkan kembali kawasan Kota Tua sebagai pusat aktivitas masyarakat dan wisata.
Respons Publik Beragam
Wacana pengoperasian kembali trem mendapat respons beragam dari masyarakat. Sebagian mendukung karena dianggap mampu mempercantik Kota Tua dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Banyak pula yang berharap trem dapat menjadi daya tarik wisata baru seperti yang ada di sejumlah kota tua di Eropa.
Di media sosial dan forum diskusi daring, beberapa warga menilai trem berpotensi menciptakan kawasan yang lebih ramah pejalan kaki. Mereka membayangkan Kota Tua menjadi area wisata dengan nuansa klasik, minim kendaraan pribadi, dan memiliki sistem transportasi modern yang terintegrasi.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan efektivitas proyek tersebut. Sebagian masyarakat menilai trem kemungkinan hanya akan berfungsi sebagai transportasi wisata, bukan solusi utama mobilitas warga Jakarta. Ada juga kekhawatiran terkait kemacetan, kepadatan kawasan Kota Tua, serta integrasi jalur dengan TransJakarta dan MRT.
Meski demikian, banyak pihak sepakat bahwa konsep transportasi berbasis rel memiliki nilai historis yang kuat bagi Jakarta. Kehadiran trem dianggap dapat menjadi simbol kebangkitan kawasan Kota Tua sekaligus bentuk pelestarian sejarah transportasi ibu kota.
Masih Tahap Kajian
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan pembangunan trem Kota Tua akan dimulai. Pemerintah menegaskan bahwa proyek tersebut masih dalam tahap pembahasan dan kajian mendalam.
Kajian tersebut mencakup desain jalur, integrasi dengan transportasi lain, dampak terhadap kawasan cagar budaya, hingga aspek pembiayaan proyek. Pemerintah juga harus memastikan pembangunan trem tidak mengganggu karakter historis Kota Tua yang menjadi salah satu kawasan heritage penting di Indonesia.
Meski masih berupa wacana, rencana menghidupkan kembali trem telah membangkitkan nostalgia banyak warga Jakarta terhadap transportasi klasik Batavia. Jika benar terealisasi di masa depan, trem bukan hanya menjadi moda transportasi baru, tetapi juga simbol perjalanan sejarah Jakarta dari masa lalu menuju kota modern yang lebih ramah lingkungan.