JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengajak negara-negara anggota BRICS memperkuat kolaborasi perdagangan di tengah semakin terfragmentasinya ekonomi global dan melemahnya sistem perdagangan berbasis aturan.
Ajakan tersebut disampaikan Budi dalam Pertemuan Tingkat Menteri BRICS (BRICS Trade Ministers’ Meeting/TMM) di Jaipur, India, Jumat (7/8). Menurutnya, perubahan lanskap perdagangan dunia menuntut negara-negara untuk mencari pola kerja sama baru agar tidak semakin terjebak dalam perpecahan ekonomi global.
Budi menilai tekanan terhadap sistem perdagangan internasional semakin terlihat seiring berbagai negara menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Kondisi tersebut turut mendorong munculnya kebijakan yang lebih protektif untuk menjaga kepentingan nasional masing-masing negara.
“Pertanyaannya adalah apakah kita akan beradaptasi dengan membangun tembok yang lebih tinggi, atau justru menemukan cara baru untuk berkolaborasi. Indonesia menantikan kolaborasi dengan seluruh mitranya dengan mengedepankan keterbukaan, rasa percaya diri, dan komitmen yang solid dalam menjalin kemitraan,” kata Budi melalui keterangan di Jakarta, Sabtu (8/8).
Menurut Budi, dalam dua dekade terakhir dunia telah menghadapi berbagai krisis, mulai dari sektor finansial, kesehatan, energi hingga geopolitik. Rangkaian krisis tersebut, kata dia, semakin memperlihatkan kerentanan dari integrasi ekonomi global.
Pada saat yang sama, negara-negara besar mulai memanfaatkan berbagai instrumen ekonomi sebagai bagian dari tekanan dalam hubungan internasional. Instrumen tersebut antara lain integrasi ekonomi, kebijakan tarif, infrastruktur finansial, hingga rantai pasok.
Situasi itu kemudian mendorong negara-negara mengambil langkah perlindungan strategis untuk memastikan ketersediaan kebutuhan penting, termasuk energi, pangan, mineral kritis, dan rantai pasok.
Budi menyebut langkah tersebut merupakan respons yang wajar dari setiap negara untuk melindungi kepentingannya. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan yang semakin terfragmentasi juga membawa risiko terhadap stabilitas ekonomi global.
“Kita harus tetap melihat risiko di balik itu. Dunia bisa menjadi semakin terpecah, rapuh, dan sulit menghadapi tantangan bersama,” ujar Budi.
Ia juga menyoroti persoalan yang masih dihadapi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di tengah meningkatnya polarisasi integrasi ekonomi. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi negara-negara untuk mempertahankan sistem perdagangan global yang terbuka.
Dalam situasi tersebut, Indonesia menyatakan tetap optimistis menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Optimisme itu ditopang oleh pertumbuhan pasar domestik, keberadaan tenaga kerja muda dan produktif, serta ketersediaan sumber daya alam.
Potensi tersebut juga diperkuat dengan kebijakan pemerintah yang diarahkan pada hilirisasi, penguatan ketahanan pangan, dan perluasan akses pasar. Indonesia juga telah menyelesaikan sejumlah perjanjian perdagangan bebas dengan berbagai mitra strategis.
Budi menegaskan, berbagai perjanjian perdagangan tersebut terus dijajaki dan diimplementasikan untuk memperluas hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara di dunia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia menggabungkan kerja sama perdagangan multilateral dengan kemitraan praktis bersama negara-negara mitra. Pemerintah berharap pendekatan itu dapat menghasilkan kerja sama yang memberikan capaian nyata bagi perdagangan dan perekonomian.
“Bagi Indonesia, ini berarti memadukan kerja sama multilateral yang kuat dengan kemitraan praktis di bidang perdagangan untuk menghasilkan capaian yang nyata. Bersama-sama, kami dapat membangun jaringan perdagangan, investasi, dan ekonomi yang tangguh sehingga mampu menghadapi tantangan dan menyambut peluang di masa depan,” kata Budi.
Melalui forum BRICS Trade Ministers’ Meeting, Indonesia mendorong agar kerja sama antarpihak tetap menjadi pilihan di tengah perubahan pola perdagangan dunia. Keterbukaan, kepercayaan, dan kemitraan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun jaringan perdagangan yang lebih tangguh menghadapi ketidakpastian global.


