KYIV, UKRAINA – Rusia dikabarkan menggunakan Ukraina sebagai medan uji coba bom luncur terbaru UMPB-5, senjata berpemandu presisi yang masih dalam tahap pengembangan. Jet tempur Sukhoi Su-34 Rusia menjatuhkan bom ini di dua wilayah Ukraina dalam kurun waktu dua bulan terakhir, menjadikan Kyiv sebagai “kelinci percobaan” untuk mengasah kemampuan amunisi baru tersebut, menurut laporan otoritas Ukraina.
Bom luncur UMPB-5, yang dirancang sebagai senjata jarak jauh berbiaya rendah, memiliki hulu ledak seberat 250 kilogram dengan cangkang logam yang lebih tebal dibandingkan pendahulunya, UMPB D-30.
“Pada UMPB-5, hulu ledaknya berbobot 250 kilogram, sebanding dengan bom berdaya ledak tinggi standar,” ungkap seorang perwakilan Kejaksaan Ukraina.
“Namun, hulu ledaknya terbungkus dalam cangkang logam yang lebih tebal daripada UMPB D-30, yang menyebabkan cedera yang lebih parah di kalangan warga sipil.”
Analisis dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), sebuah think tank berbasis di Washington, D.C., mengungkapkan bahwa Rusia tengah mempercepat pengembangan amunisi berpemandu jarak jauh yang ekonomis.
Langkah ini didorong oleh kegagalan Moskow untuk menghancurkan pertahanan udara Ukraina pada awal invasi, menurut John Hardie dari FDD.
“Kegagalan Rusia untuk menghancurkan sebagian besar pertahanan udara Ukraina pada awal invasi mendorong Moskow untuk segera mengembangkan bom luncur murah dengan jangkauan standoff,” katanya.
Senjata ini dilengkapi permukaan kendali aerodinamis dan sistem navigasi inersia, memungkinkan akurasi tinggi dan jangkauan luas tanpa memasuki wilayah udara Ukraina.
Hal ini menyulitkan sistem pertahanan udara Ukraina untuk mencegat serangan. Dampaknya terasa signifikan, terutama di wilayah-wilayah strategis yang menjadi target serangan Rusia.
Otoritas Ukraina mendesak sekutu internasional untuk memperkuat sistem pertahanan udara guna menghadapi ancaman baru ini.
“Kami membutuhkan dukungan lebih lanjut untuk melindungi warga sipil dari senjata eksperimental yang digunakan Rusia,” tegas seorang pejabat Ukraina.
Penggunaan bom luncur ini mencerminkan strategi Rusia untuk memaksimalkan kerusakan dengan biaya rendah, sekaligus menguji teknologi militer terbaru di medan perang.
Situasi ini memicu kekhawatiran global, dengan Ukraina menyerukan respons cepat dari komunitas internasional untuk menghentikan eskalasi konflik yang kian mematikan.
