WASHINGTON DC, AS – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan menggelar pertemuan penting di Alaska untuk membahas penyelesaian konflik Ukraina yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pertemuan ini menjadi sorotan dunia karena dianggap sebagai langkah krusial menuju perdamaian di tengah ketegangan global yang kian memanas.
Menurut laporan The Washington Post, Trump telah melakukan komunikasi intensif dengan Putin melalui sambungan telepon dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada Kamis (7/8/2025).
Dalam percakapan tersebut, Trump menegaskan pentingnya menahan eskalasi perang di Ukraina. “Kami tidak mengomentari panggilan telepon pribadi antara Presiden Trump dan para pemimpin dunia lainnya,” ujar Steven Cheung, direktur komunikasi Trump, menanggapi kabar tersebut.
Pertemuan di Alaska ini disebut-sebut akan berfokus pada negosiasi damai, termasuk isu sensitif seputar wilayah yang dikuasai Rusia di Ukraina bagian timur dan selatan, serta pengelolaan pembangkit listrik tenaga nuklir di perbatasan Rusia-Ukraina. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Trump dan Putin akan membahas
“sebuah pembangkit listrik di perbatasan Rusia dan Ukraina.” Namun, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memilih bungkam terkait pernyataan tersebut.
Latar Belakang Konflik dan Harapan Perdamaian
Konflik Ukraina-Rusia, yang dimulai pada 2022, telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur besar-besaran. Trump, yang selama kampanye pilpres berjanji mengakhiri perang ini dengan cepat, menegaskan bahwa AS memiliki kehadiran militer yang kuat di Eropa, sebuah sinyal untuk menekan Rusia agar mempertimbangkan opsi diplomatik. Meski begitu, Kyiv tetap teguh menolak menyerahkan wilayahnya, termasuk Krimea yang telah dikuasai Rusia sejak 2014.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang juga telah berbincang dengan Trump melalui telepon, menyuarakan kekhawatiran atas potensi kesepakatan yang dapat merugikan negaranya. Dalam panggilan tersebut, miliarder Elon Musk turut hadir, menambah dimensi unik pada upaya diplomasi ini.
Reaksi Dunia dan Dampak Politik
Kemenangan telak Trump atas kandidat Demokrat Kamala Harris pada pemilu AS baru-baru ini memicu spekulasi besar tentang arah kebijakan luar negeri AS, terutama terkait Ukraina. Trump kerap mengkritik bantuan miliaran dolar AS untuk Kyiv, menyebutnya sebagai pemborosan. “Setidaknya dia berbicara tentang perdamaian, dan bukan tentang konfrontasi,” ujar Peskov,
Namun, langkah Trump ini juga menuai kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa, seperti Inggris dan Prancis, yang khawatir AS akan mengambil keputusan sepihak tanpa koordinasi. Zelensky sendiri menegaskan bahwa menyerahkan wilayah hanya akan memicu agresi Rusia lebih lanjut.
Menuju Pertemuan Bersejarah
Pertemuan Trump-Putin di Alaska, yang dijadwalkan dalam waktu dekat, diharapkan menjadi titik balik dalam upaya meredakan konflik Ukraina. Dunia kini menanti apakah dialog ini mampu menghasilkan terobosan diplomatik atau justru memperumit situasi geopolitik. Dengan tensi tinggi dan kepentingan besar yang dipertaruhkan, Alaska akan menjadi panggung diplomasi global yang patut disimak.