JAKARTA – Paris Saint-Germain (PSG) tengah berada di puncak prestasi usai meraih treble winner musim ini, termasuk trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Namun di balik euforia itu, suasana di ruang ganti skuad Luis Enrique justru memanas.
Penyebabnya adalah dukungan Presiden Nasser Al Khelaifi kepada Ousmane Dembélé sebagai kandidat utama Ballon d’Or, yang memicu kecemburuan di antara para pemain lain.
Musim ini, PSG sukses menempatkan sembilan pemain dalam daftar 30 kandidat Ballon d’Or versi France Football.
Selain Dembélé, ada Gianluigi Donnarumma, Désiré Doué, Khvicha Kvaratskhelia, Vitinha, Manuel Ugarte Neves, Fabián Ruiz, Nuno Mendes, dan Achraf Hakimi.
Namun dukungan publik Al Khelaifi kepada Dembélé—yang disampaikan awal Juli sebelum daftar resmi dirilis—ternyata memantik reaksi keras, terutama dari Hakimi.
Pemain asal Maroko itu menegaskan bahwa ia layak menjadi pemenang.
“Di Liga Champions, saya mencetak gol di perempat final, semifinal, dan final. Jika seorang bek bisa melakukan semua itu, dia layak menang lebih dari seorang penyerang,” kata Hakimi dalam wawancara eksklusif seperti dikutip dari Gazzetta.
Menurut laporan L’Equipe, pihak media PSG bahkan berusaha memotong bagian wawancara ini, namun Hakimi menolak karena merasa berhak menyampaikan pendapatnya.
Sementara itu, Dembélé memilih diam dan tidak melakukan kampanye pribadi, meyakini performa di lapangan sudah cukup menjadi penentu.
Donnarumma justru secara halus menyindir melalui media sosial, mengingatkan bahwa ia adalah satu-satunya kiper yang masuk nominasi.
Agennya, Vincenzo Raiola, menegaskan, “Dembélé banyak berkontribusi dengan golnya, tetapi tanpa penyelamatan Gianluigi melawan Liverpool, Aston Villa, dan Arsenal, PSG tidak akan pernah memenangkan Liga Champions.”
Di tengah ketegangan ini, Vitinha menjadi satu-satunya pemain yang secara terbuka mendukung Dembélé.
Ia mengaku tersanjung masuk daftar kandidat, namun menyebut sang penyerang sebagai yang paling pantas menang.
Menyadari potensi retaknya kebersamaan tim, Al Khelaifi pada awal Agustus mencoba meredakan suasana dengan menyatakan bahwa semua pemain PSG layak mendapatkan Ballon d’Or.
Kini, tantangan PSG bukan hanya soal memenangi trofi, tetapi juga menjaga harmoni di ruang ganti sambil mempromosikan Dembélé sebagai kandidat utama tanpa menyinggung rekan setim lainnya.
Persaingan Ballon d’Or pun menjadi babak baru drama internal juara Eropa ini.***