NEW YORK, AS – Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump kembali menggebrak panggung internasional dengan pidato berapi-api di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-80 pada Selasa (23/9). Berlangsung hampir satu jam, orasi Trump menyentuh isu-isu panas seperti konflik Timur Tengah, imigrasi massal, hingga peran PBB yang dinilainya lemah.
- 1. Penolakan Keras terhadap Pengakuan Sepihak Palestina
- 2.Serangan Balik ke PBB: Klaim Akhiri 7 Perang Sendirian
- 3. Ajak Semua Negara Tutup Perbatasan: Akhiri ‘Eksperimen Gagal’ Imigrasi
- Trump bahkan menuding PBB ikut berkontribusi pada masalah:
- Khusus untuk Eropa, ia menyampaikan kekhawatiran mendalam:
- 4.Kecaman Tajam ke Pembeli Minyak Rusia: Termasuk Anggota NATO
- 5. Penekanan pada Kedaulatan Nasional di Tengah Ancaman Global
Pidato ini, yang disiarkan langsung ke seluruh dunia, langsung memicu perdebatan sengit di media sosial dan kalangan diplomat.
Dalam pidatonya, Trump menekankan prioritas “America First” sambil mengajak pemimpin dunia untuk lebih tegas melindungi kedaulatan nasional. Berikut lima poin utama yang menjadi sorotan, berdasarkan analisis konten pidato Trump di PBB 2025:
1. Penolakan Keras terhadap Pengakuan Sepihak Palestina
Trump menyoroti ketegangan di Gaza sebagai urusan mendesak yang membutuhkan solusi langsung, bukan diplomasi setengah hati. Ia mengkritik negara-negara Barat seperti Inggris dan Prancis atas pengakuan kemerdekaan Palestina, yang menurutnya justru menguntungkan kelompok militan.
“Sekarang, seolah ingin mendorong konflik terus berlanjut, sebagian dari lembaga ini sedang berusaha mengakui negara Palestina secara sepihak… Alih-alih menyerah pada tuntutan sandera dari Hamas, mereka yang menginginkan perdamaian seharusnya bersatu dengan satu pesan: bebaskan para sandera sekarang juga!”
Trump menekankan bahwa perdamaian sejati dimulai dari pembebasan sandera dan gencatan senjata segera, sambil menyerukan kolaborasi global untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
2.Serangan Balik ke PBB: Klaim Akhiri 7 Perang Sendirian
Tak segan menargetkan tuan rumah acara, Trump menuding PBB gagal total dalam misi perdamaian dunia. Ia mengklaim bahwa inisiatif AS-lah yang sering menjadi penyelamat, sementara organisasi internasional itu hanya menghasilkan retorika kosong.
“Dalam waktu hanya tujuh bulan, saya telah mengakhiri tujuh perang yang katanya tak bisa diakhiri… Tidak ada Presiden atau Perdana Menteri — atau negara lain mana pun — yang pernah melakukan hal seperti itu… Sangat disayangkan bahwa saya harus melakukan semua ini, alih-alih PBB, yang bahkan tidak mencoba untuk membantu.”
Lebih lanjut, ia mempertanyakan relevansi PBB secara keseluruhan:
“Apa gunanya Perserikatan Bangsa-Bangsa? PBB punya potensi luar biasa… Tapi yang mereka lakukan hanya menulis surat yang sangat keras isinya, lalu tidak pernah menindaklanjutinya. Itu kata-kata kosong — dan kata-kata kosong tidak menyelesaikan perang.”
Pernyataan ini langsung memicu reaksi dari delegasi PBB, yang menyebutnya sebagai “serangan pribadi” terhadap multilateralisme.
3. Ajak Semua Negara Tutup Perbatasan: Akhiri ‘Eksperimen Gagal’ Imigrasi
Isu migrasi menjadi pukulan telak dari Trump, di mana ia memperingatkan bahwa kebijakan perbatasan terbuka mengancam identitas dan stabilitas negara-negara. Pidato ini seolah menjadi manifesto anti-globalisme, dengan seruan agar setiap pemimpin bertindak tegas.
“Sudah waktunya mengakhiri eksperimen gagal bernama perbatasan terbuka. Kalian harus mengakhirinya sekarang juga… Negara-negara kalian sedang menuju kehancuran.”
Trump bahkan menuding PBB ikut berkontribusi pada masalah:
“Bukan hanya PBB tidak menyelesaikan masalah yang seharusnya mereka selesaikan, terlalu sering mereka justru menciptakan masalah baru bagi kita untuk diselesaikan… PBB sedang mendanai serangan terhadap negara-negara Barat dan perbatasannya.”
Khusus untuk Eropa, ia menyampaikan kekhawatiran mendalam:
“Saya presiden Amerika Serikat, tapi saya khawatir terhadap Eropa. Saya cinta Eropa. Tapi saya benci melihatnya dihancurkan oleh energi dan imigrasi — monster berkepala dua yang meluluhlantakkan segalanya.”
Analis politik memprediksi pidato ini akan memengaruhi debat imigrasi di Uni Eropa mendatang.
4.Kecaman Tajam ke Pembeli Minyak Rusia: Termasuk Anggota NATO
Trump tak melewatkan konflik Ukraina, menyoroti bagaimana perdagangan energi dengan Rusia memperpanjang penderitaan. Ia menargetkan Tiongkok, India, dan bahkan sekutu NATO atas kelanjutan impor minyak Moskow.
“Tiongkok dan India adalah penyandang dana utama perang yang sedang berlangsung karena terus membeli minyak Rusia — namun sangat disayangkan, bahkan negara-negara NATO belum banyak menghentikan pembelian energi dari Rusia.”
Dengan nada sarkastis, ia menambahkan:
“Mereka sedang mendanai perang terhadap diri mereka sendiri. Siapa yang pernah dengar hal seperti itu?**”
Seruan ini diharapkan mendorong sanksi lebih ketat, meski dikhawatirkan memicu ketegangan dengan mitra dagang utama AS.
5. Penekanan pada Kedaulatan Nasional di Tengah Ancaman Global
Menutup pidato, Trump menggarisbawahi bahwa era globalisme buta harus diganti dengan prioritas nasional yang kuat. Ia memuji kemajuan AS di bawah kepemimpinannya sambil mengajak dunia untuk “bangun sebelum terlambat”.