JAKARTA – Tepat 60 tahun lalu, subuh 1 Oktober 1965 menjadi momen kelam dalam sejarah Indonesia. Letjen TNI Ahmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad), tewas tertembak tujuh peluru dalam serangan mendadak oleh pasukan Tjakrabirawa dan sekelompok pemuda rakyat.
Namun, di balik malam jahanam itu, kisah firasat aneh seperti minyak wangi yang tumpah dan telepon misterius dari nomor tak dikenal justru menjadi pengantar yang mencekam bagi keluarga Yani sehari sebelumnya.
Malam 30 September 1965, suasana di kediaman Jenderal Yani di Jakarta tampak biasa saja. Tak ada bayang-bayang petaka yang tercium oleh para anak-anaknya.
Saat itu, sang jenderal baru pulang dari rutinitas harian, dan interaksi keluarga berlangsung hangat seperti hari-hari biasa. Rekaman peristiwa ini diabadikan dalam buku sejarah berjudul Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965, yang mengungkap detail intim di balik tragedi G30S/PKI yang mengguncang bangsa.
Firasat pertama muncul secara tak terduga saat Jenderal Yani tiba di rumah. Saat memasuki ruang keluarga, ia tiba-tiba bertanya dengan nada biasa, “Ibu nandi (Ibu di mana)?” Anak-anaknya menjawab kompak, “Ibu di dapur, sedang masak.”
Respons sederhana itu seolah menandai akhir dari hari yang tenang, sebelum elemen-elemen gaib mulai merayap masuk.
Tak lama setelahnya, aroma minyak wangi favorit sang istri tiba-tiba tumpah di sudut ruangan. Botol parfum yang biasanya aman di rak kamar mandi entah bagaimana terguling, meninggalkan genangan harum yang menusuk hidung. Keluarga awalnya menganggapnya sebagai kecelakaan kecil, tapi bagi yang percaya takhayul, tumpahan minyak wangi sering diartikan sebagai pertanda duka atau bencana besar yang akan menimpa.
Firasat ini semakin kuat ketika telepon rumah berdering di tengah malam, dari nomor misterius yang tak dikenal. Panggilan singkat itu hanya berisi suara samar, tanpa pesan jelas, sebelum garis terputus. Hingga kini, asal-usul telepon itu tetap menjadi misteri, diduga sebagai upaya peringatan atau sabotase dari pihak tak terlihat.
Sore harinya, keluarga berkumpul di ruang tamu untuk obrolan santai. Jenderal Yani, yang dikenal sebagai figur ayah yang tegas namun penuh kasih, berbagi rencana menyenangkan untuk masa depan. Ia tersenyum lebar saat berkata kepada anak-anaknya:
“Mengko tanggal 5 Oktober, kabeh melu bapak. Ndelok defile nang Istana. Kabeh mbolos sekolah wae.” (Nanti tanggal 5 Oktober semua ikut bapak. Lihat defile di Istana. Semua bolos sekolah saja.)
Rencana menonton parade peringatan Hari Ulang Tahun TNI di Istana Negara itu seharusnya menjadi momen bahagia, tapi malah menjadi janji yang tak terpenuhi akibat gejolak politik yang memuncak.
Tragedi 1 Oktober 1965 bukan hanya menewaskan Jenderal Yani, tapi juga enam perwira tinggi TNI lainnya, termasuk Letjen Suprapto, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, dan Brigjen D.I. Pandjaitan. Serangan kilat itu menjadi bagian dari rangkaian peristiwa G30S yang mengubah arah sejarah Indonesia, memicu reformasi militer dan transisi kekuasaan.
Kisah firasat di rumah Jenderal Yani mengingatkan kita pada kerapuhan kehidupan di tengah intrik politik, di mana tanda-tanda kecil bisa menjadi peringatan yang diabaikan.