MANILA, FILIPINA – Gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 6,9 mengguncang wilayah tengah Filipina pada Selasa malam (30/9/2025), menewaskan setidaknya 27 orang dan melukai 140 warga lainnya.
Bencana alam ini memicu kepanikan massal, pemadaman listrik luas, dan kerusakan parah pada infrastruktur, termasuk jembatan serta gedung pemerintahan, menurut laporan terbaru dari otoritas setempat.
Gempa utama terjadi lepas pantai Kota Cebu sekitar pukul 21.55 waktu setempat, dengan pusat gempa berada pada kedalaman hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut. Badan Geologi Filipina (Phivolcs) mencatat deretan getaran susulan, termasuk satu yang mencapai Magnitudo 6,0, meskipun belum ada ancaman tsunami yang terdeteksi.
Wilayah Provinsi Cebu dan sekitarnya, khususnya San Remigio di bagian utara, menjadi zona paling terdampak, di mana rumah-rumah bergoyang hebat dan bangunan retak-retak.
Dewan Pengurangan Risiko dan Penanganan Bencana Nasional (NDRRMC) Filipina melaporkan setidaknya 22 bangunan mengalami kerusakan struktural, dengan empat di antaranya roboh total. Selain itu, tiga gedung pemerintahan hancur parah, enam jembatan tidak bisa dilalui, dan satu ruas jalan utama terisolasi akibat longsor kecil.
Pemadaman listrik melanda sebagian besar Cebu, sementara pasokan air bersih terganggu di daerah pedalaman, memperburuk situasi bagi ribuan penduduk yang mengungsi.
Korban jiwa tercatat 27 orang, di mana 22 di antaranya berasal dari San Remigio dan 21 lainnya tersebar di berbagai lokasi di Provinsi Cebu—meskipun verifikasi masih berlangsung untuk menghindari duplikasi data. Sebanyak 140 orang mengalami luka-luka, mulai dari patah tulang hingga trauma akibat runtuhan bangunan.
Tim penyelamat darurat sedang berupaya mengevakuasi korban yang terjebak puing-puing, didukung oleh peralatan berat yang diminta segera dari pemerintah pusat.
Di tengah kekacauan, Wakil Wali Kota San Remigio, Alfie Reynes, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi warganya. “Saat ini hujan deras dan listrik padam. Kami sangat membutuhkan bantuan, khususnya di wilayah utara, karena pasokan air terputus akibat gempa,” ujar Reynes dalam pernyataan daruratnya, seperti dikutip dari NDRRMC.
Phivolcs juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi aftershock lanjutan, serta memantau tanda-tanda bahaya laut seperti arus kuat atau kenaikan permukaan air secara tiba-tiba.
“Gempa ini mengingatkan kita akan kerentanan Filipina terhadap aktivitas tektonik di Cincin Api Pasifik,” tulis pernyataan resmi Phivolcs, menekankan pentingnya persiapan bencana berkelanjutan.
Hingga Rabu pagi (1/10/2025), upaya penyelamatan terus berlangsung di bawah koordinasi nasional, dengan fokus utama pada distribusi makanan, air minum bersih, dan obat-obatan. Pemerintah Filipina telah mengalokasikan dana darurat awal, sementara LSM internasional bersiap mengirim tim bantuan.



