JAKARTA – Penyanyi R&B pemenang Grammy Awards, Michael Eugene Archer atau lebih dekenal sebagai D’Angelo meninggal dunia pada usia 51 tahun setelah didiagnosis menderita kanker.
Keluarganya mengumumkan kabar duka tersebut melalui sebuah pernyataan, menyebut kepergian D’Angelo sebagai kehilangan besar bagi dunia musik dan mengajak para penggemar untuk merayakan warisan karya yang ditinggalkannya.
“Legasi muzik yang amat menyentuh jiwa,” tulis keluarganya dilansir dari Variety, Rabu (15/10/2025), seraya menyeru peminat agar menghargai “anugerah suara dan lagu yang ditinggalkannya buat dunia.”
D’Angelo dikenal luas sebagai pelopor genre neo-soul, yang memadukan elemen R&B, hip-hop, dan jazz. Ia meraih empat Anugerah Grammy sepanjang kariernya yang dimulai pada 1990-an. Debutnya lewat album Brown Sugar langsung melejitkan namanya, dengan lagu Lady mencapai posisi ke-10 di Billboard Hot 100 pada 1996.
Video musik ikonisnya, Untitled (How Does It Feel), menjadi fenomena tersendiri karena visualnya yang berani dengan konsep pengambilan gambar satu kali (one-shot).
“Bintang paling bersinar dalam keluarga kami kini telah memadamkan cahayanya di dunia ini,” ujar keluarganya dalam pernyataan yang dikutip oleh CBS News.
D’Angelo memulai perjalanan musiknya sebagai penulis lagu dan sempat bekerja sama dengan sejumlah nama besar seperti Lauryn Hill dan The Roots. Ia juga memiliki pengalaman tampil di panggung Apollo Theater, Harlem, dan menjuarai kompetisi bakat amatur selama tiga minggu berturut-turut saat berusia 18 tahun.
Lahir di Richmond, Virginia, dari keluarga religius, D’Angelo sudah belajar bermain piano sejak usia tiga tahun. Semasa remaja, ia tergabung dalam beberapa grup lokal seperti Three of a Kind, Michael Archer and Precise, serta I.D.U. (Intelligent, Deadly but Unique).
Kesuksesannya berlanjut lewat album Voodoo (2000) yang menambahkan dua Grammy ke dalam koleksinya. Namun setelah itu, ia menghadapi masa-masa sulit akibat ketergantungan alkohol dan hampir kehilangan nyawa dalam kecelakaan mobil pada 2005.
Setelah hampir satu dekade menghilang dari industri, D’Angelo kembali lewat album Black Messiah (2014) yang terinspirasi dari gelombang protes nasional di Amerika Serikat menyusul kematian Michael Brown dan Eric Garner, dua pria kulit hitam tak bersenjata. Album tersebut memenangkan Grammy untuk Album R&B Terbaik pada 2016.
Penghormatan mengalir dari berbagai kalangan musik. DJ Premier, produser lagu Devil’s Pie, menyampaikan pesan emosional melalui media sosial:
“Pemergian yang amat menyedihkan. Kita ada terlalu banyak kenangan indah. Akan sentiasa merinduimu. Rehatlah dengan tenang, D’. Sayang kamu, KING.”
Album Voodoo sempat menduduki puncak tangga musik Amerika Serikat, dan oleh majalah Rolling Stone, dinobatkan sebagai album ke-28 dalam daftar “Album Terhebat Sepanjang Zaman”—satu posisi di atas The Beatles’ White Album.
Sebelum wafat, D’Angelo dilaporkan tengah menggarap album keempatnya bersama musisi sekaligus produser Raphael Saadiq.
Sejumlah artis seperti Tyler, The Creator dan Flavor Flav dari Public Enemy juga menyampaikan duka, menyebut D’Angelo sebagai “ikon sejati.”