JAKARTA – Ketegangan Thailand–Kamboja kembali menjadi sorotan utama setelah pemerintah Kamboja mengevakuasi ratusan warga dari zona perbatasan yang diperebutkan menyusul insiden penembakan mematikan yang memperburuk situasi keamanan.
Langkah evakuasi besar-besaran ini dilakukan menyusul meningkatnya ketegangan Thailand–Kamboja meski kedua negara sebelumnya bersepakat menjaga gencatan senjata yang ditandatangani pada Juli lalu.
Ketegangan Thailand–Kamboja kini mencapai fase genting setelah satu warga sipil bernama Dy Nai dilaporkan tewas dan memicu pemindahan sekitar 250 keluarga dari Desa Prey Chan di Provinsi Banteay Meanchey ke kompleks kuil Buddha yang berjarak sekitar 29 kilometer dari garis batas.
Pemerintah Kamboja memastikan pemindahan warga dilakukan demi menghindari jatuhnya korban tambahan setelah baku tembak kembali terjadi di sekitar desa perbatasan tersebut.
Perdana Menteri Hun Manet mengonfirmasi adanya tiga korban luka dalam insiden itu, sementara kedua negara saling menuding pihak lain sebagai pemicu tembakan pertama.
Jenderal Besar Thailand Winthai Suvaree menegaskan bahwa “tentara Kamboja memulai penembakan,” namun Kementerian Pertahanan Kamboja menyebut justru pasukan Thailand yang memantik bentrokan selama sekitar 10 menit itu.
Insiden terbaru ini membuat masa depan gencatan senjata kembali dipertanyakan karena perjanjian yang dijalankan sejak Juli itu sebelumnya telah beberapa kali diguncang aksi kekerasan.
Ketegangan di wilayah perbatasan semakin runcing setelah Thailand menuding Kamboja memasang ranjau baru yang menyebabkan seorang prajuritnya kehilangan kaki, sementara Kamboja menolak tuduhan tersebut dan menyebut ranjau itu peninggalan konflik lama.
Bangkok menilai penjelasan Kamboja tidak cukup dan memilih menangguhkan kelanjutan gencatan senjata lanjutan yang disepakati Oktober lalu dengan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Penundaan itu juga berdampak pada proses pembebasan 18 tentara Kamboja yang seharusnya digelar pada Rabu (12/11/2025).
Situasi semakin sensitif karena keputusan Thailand tersebut muncul kurang dari tiga minggu setelah Donald Trump ikut menandatangani perjanjian gencatan senjata dalam pertemuan ASEAN di Kuala Lumpur bersama Malaysia, Kamboja, dan Thailand.***
