JAKARTA – Pasar keuangan global kompak bergerak positif pada Selasa (25/11/2025). Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan dengan reli kuat, sementara rupiah juga terapresiasi di tengah meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Desember. Optimisme investor menguat setelah serangkaian pernyataan bernada dovish dari pejabat The Fed dalam beberapa hari terakhir.
Wall Street Menghijau untuk Hari Ketiga
Indeks Dow Jones Industrial Average meroket 664 poin atau 1,4% ke 47.112. S&P 500 turut menguat 0,9% ke posisi 6.765, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,7% menjadi 23.025. Kenaikan ini menjadi reli hari ketiga berturut-turut bagi Wall Street, meski sepanjang November indeks saham AS masih bergerak melemah.
Rupiah Menguat di Tengah Volatilitas
Di pasar valuta asing, rupiah menutup perdagangan Selasa dengan penguatan 43 poin ke Rp16.656 per dolar AS. Namun pada pembukaan sesi Rabu (26/11), rupiah sempat terkoreksi tipis ke Rp16.661 sebelum bergerak fluktuatif dan menyentuh Rp16.645.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Melonjak Tajam
Sentimen pasar berbalik positif setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyampaikan bahwa masih terbuka peluang untuk “penyesuaian lebih lanjut dalam waktu dekat” terkait suku bunga acuan. Pernyataan yang disampaikan Jumat (21/11) itu menjadi sorotan karena posisi Williams sebagai wakil ketua FOMC dan salah satu pejabat paling berpengaruh di The Fed.
Nada dovish semakin kuat ketika Gubernur The Fed Christopher Waller pada Senin (24/11) kembali menegaskan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember. “Saya mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan berikutnya,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox Business Network.
Perkiraan pasar pun langsung melonjak. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga 25 basis poin pada FOMC 9–10 Desember kini berada di kisaran 80–84%, jauh lebih tinggi dibanding sekitar 42% pada pekan sebelumnya. Jika realisasi, keputusan tersebut menjadi pemangkasan ketiga sejak The Fed memulai penurunan suku bunga pada September dan Oktober 2025.
Prospek Pasar: Rupiah Berpotensi Melemah, IHSG Sideways
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah masih berpotensi bergerak volatil pada perdagangan Rabu, dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.650–Rp16.700 per dolar AS. Ia menilai pelemahan indeks dolar AS akibat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penopang rupiah.
Sementara itu, analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan IHSG akan bergerak sideways di level 8.470–8.570. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG terkoreksi 0,56% ke posisi 8.521,89. Saat pembukaan Rabu, indeks sempat naik ke 8.533,88 namun kembali melemah.
Pasar Menanti Rilis Data Ekonomi AS
Investor kini menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting yang tertunda akibat penutupan sementara pemerintahan AS, termasuk laporan ketenagakerjaan Oktober–November yang dijadwalkan rilis 16 Desember dan data inflasi konsumen (CPI) November pada 18 Desember. Hasil data tersebut akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed pada awal 2026.