JAKARTA – Kemenko PMK menegaskan agenda pembangunan sumber daya manusia (SDM) kini diarahkan untuk selaras dengan percepatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menjadi prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menko PMK Pratikno menjelaskan bahwa penguatan kualitas SDM harus menyesuaikan perubahan digital sekaligus memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan tanpa terkecuali.
“Human development harus memanfaatkan dan mengantisipasi perkembangan AI. Mandatnya adalah bahwa pertama, baik itu pendidikan maupun kesehatan, tidak ada satupun anak Indonesia yang tidak terlayani,” kata Pratikno dalam acara ‘Multistakeholder Dialogue’ di Kantor PMK, Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Ia menegaskan bahwa negara membuka ruang yang lebih luas bagi generasi berprestasi agar mampu bersaing secara global melalui program pendidikan yang disiapkan secara strategis.
Salah satu terobosan besar tersebut adalah Program Sekolah Unggul Garuda yang berada langsung di bawah pengarahan Presiden Prabowo.
“Program Sekolah Unggul Garuda membuat anak Indonesia lebih kompetitif. Anak dari keluarga miskin juga harus terfasilitasi mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” ucapnya, tegas.
Pratikno menambahkan bahwa upaya ini menjadi bagian dari agenda besar pembangunan SDM unggul untuk mencetak masyarakat yang siap menghadapi disrupsi teknologi.
Dalam sektor kesehatan, pemerintah terus memperluas layanan dasar melalui pembangunan rumah sakit hingga wilayah pelosok.
“Pemeriksaan kesehatan gratis dan pembangunan rumah sakit terus dilakukan. Langkah ini penting bagi pembangunan manusia seutuhnya,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Wamendiktisaintek Stella Christie mengingatkan bahwa pemanfaatan AI tidak boleh menghilangkan proses pendidikan yang melibatkan kemampuan berpikir manusia.
Stella menekankan bahwa manusia tetap memiliki peran fundamental yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh teknologi dalam kegiatan belajar.
“Kalau otaknya diganti LLM, tidak akan bisa memahami keindahan. Kalau tidak pernah melalui proses menulis sendiri, tidak akan bisa mengetahui mana tulisan yang bagus dan mana yang tidak,” ujar Stela.
Ia menambahkan bahwa teknologi, termasuk AI, harus diposisikan sebagai alat pendukung yang memperkuat proses pembelajaran tanpa mengurangi esensi dan kualitas berfikir manusia.***