JAKARTA – Lebih dari seribu warga Hong Kong turun ke jalan pada Minggu (30/11/2025) untuk memberi penghormatan kepada korban kebakaran paling mematikan dalam lebih dari tujuh dekade. Tragedi di kompleks apartemen bertingkat tinggi itu menewaskan 146 orang, sementara lebih dari 40 lainnya masih hilang.
Polisi menyebut sejumlah jenazah ditemukan di tangga dan atap, tempat penghuni berusaha melarikan diri dari kobaran api. Bau asap masih menyelimuti kawasan Tai Po, utara Hong Kong, empat hari setelah api melahap tujuh menara hunian yang tengah direnovasi.
Ribuan pelayat berbaris sepanjang kanal dekat Wang Fuk Court, membawa bunga putih dan catatan untuk para korban. Joey Yeung, 28 tahun, yang apartemen neneknya ikut terbakar, menyampaikan rasa duka sekaligus kemarahan.
“Saya tidak bisa menerimanya. Jadi hari ini saya datang bersama ayah dan keluarga saya untuk meletakkan bunga,” ujarnya, dilansir dari Reuters. “Saya tidak meminta imbalan apa pun, tetapi setidaknya memberikan keadilan bagi keluarga almarhum—bagi mereka yang masih hidup.”
Tragedi ini juga menelan korban pekerja migran: tujuh pekerja rumah tangga asal Indonesia dan satu dari Filipina dipastikan tewas, sementara puluhan lainnya belum ditemukan. Komunitas Filipina di pusat kota menggelar doa bersama yang dihadiri ratusan orang.
Di tengah duka, muncul tuntutan penyelidikan independen atas dugaan korupsi dan lemahnya pengawasan konstruksi. Petisi daring yang diluncurkan kelompok aktivis sempat mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda tangan sebelum ditutup. Petisi serupa dari warga Tai Po di luar negeri menambah 2.700 tanda tangan. “Pemerintah berutang pertanggungjawaban yang tulus dan eksplisit kepada warga Hong Kong,” tulis penggagasnya.
Beijing menegaskan akan menindak setiap aksi protes terkait kebakaran dengan undang-undang keamanan nasional.
“Kami dengan tegas memperingatkan para pengganggu anti-Tiongkok yang mencoba ‘mengganggu Hong Kong melalui bencana’. Apa pun metode yang Anda gunakan, Anda pasti akan dimintai pertanggungjawaban dan dihukum berat,” demikian pernyataan otoritas keamanan nasional.
Pihak berwenang telah menahan 11 orang terkait kasus ini, termasuk dugaan penggunaan material berbahaya dalam renovasi. Alarm kebakaran di kompleks yang dihuni lebih dari 4.600 orang dilaporkan tidak berfungsi dengan baik.
Kebakaran yang terjadi Rabu sore itu menghanguskan tujuh dari delapan blok 32 lantai, dibungkus perancah bambu dan jaring hijau yang mudah terbakar. Tragedi ini menjadi kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak 1948, ketika 176 orang tewas dalam kebakaran gudang.
Polisi memperkirakan pencarian menyeluruh terhadap bangunan rusak parah akan memakan waktu hingga empat minggu.