BELGIA – Ketegangan antara Rusia dan NATO memanas setelah Presiden Vladimir Putin menyatakan kesiapan Moskow untuk berperang melawan Eropa. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte merespons dengan tegas bahwa aliansi Atlantik Utara siap melakukan segala cara untuk melindungi satu miliar warganya.
Pernyataan saling mengancam ini mencuat di tengah mandeknya upaya diplomasi Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Dalam wawancara pada Selasa (2/12), Putin menegaskan, “Kami tidak akan berperang dengan Eropa; saya sudah mengatakannya ratusan kali. Tetapi jika Eropa tiba-tiba ingin melawan kami dan memulainya, kami siap sekarang juga.”
Tak sampai 48 jam, Rutte membalas di Brussels menjelang KTT NATO. “NATO adalah aliansi pertahanan,” tegasnya seperti dikutip The Independent, Kamis (4/12). “Tapi jangan salah, kami siap dan bersedia melakukan apa pun untuk melindungi satu miliar penduduk kami dan mengamankan wilayah kami. Putin yakin ia bisa bertahan lebih lama dari kami, tetapi kami tidak akan ke mana-mana.”
Diplomasi Trump Gagal di Moskow
Sementara itu, harapan damai yang digagas Presiden AS Donald Trump kandas. Delegasi khusus Trump – Steve Witkoff dan menantu presiden, Jared Kushner – pulang dari Moskow pada Rabu (3/12) tanpa membawa kesepakatan. Pertemuan lanjutan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Brussels bahkan dibatalkan mendadak.
Meski begitu, Rutte masih menyampaikan optimisme. “Hanya ada satu orang di seluruh dunia yang mampu memecahkan kebuntuan. Yaitu Presiden Amerika, Donald J. Trump,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengonfirmasi adanya komunikasi lanjutan. “Terdapat kontak antara ketua delegasi Ukraina dan Witkoff,” katanya. “Perwakilan delegasi Amerika melaporkan bahwa, menurut pendapat mereka, perundingan di Moskow memiliki hasil yang positif dan mereka mengundang delegasi Ukraina untuk melanjutkan perundingan kami di Amerika dalam waktu dekat.”
Namun, rencana perdamaian 28 poin versi Trump sebelumnya dinilai sejumlah pihak sebagai “daftar keinginan Rusia”.
Eropa Siapkan Dana Besar untuk Kyiv
Di tengah kebuntuan diplomasi, Komisi Eropa mengusulkan skema baru: memanfaatkan aset Rusia yang dibekukan senilai ratusan miliar euro atau menerbitkan pinjaman internasional pertama dalam sejarah untuk menggalang 90 miliar euro bagi Ukraina. Dana ini akan digunakan untuk kebutuhan militer dan layanan publik yang kini terancam lumpuh.
Krisis Politik di Kyiv Kian Memburuk
Pemerintahan Zelensky juga diguncang krisis internal. Kepala Staf Kepresidenan Andriy Yermak – negosiator utama Ukraina – terpaksa mundur akibat skandal korupsi senilai 100 juta dolar AS. Ia digantikan Rustem Umerov, mantan Menteri Pertahanan.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mendesak Putin untuk “mengakhiri kegaduhan dan pertumpahan darah” serta mendukung perdamaian yang adil. Sementara Trump menegaskan, “Kesan mereka sangat kuat bahwa ia (Putin) ingin mencapai kesepakatan,” ucapnya dari Oval Office.
Dengan ancaman perang dan diplomasi yang tersendat, Eropa kini bersiap menghadapi skenario terburuk memasuki musim dingin.