JATIM – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Densus 88 Antiteror Polri, serta Pondok Pesantren LP3IA Al-Qur’an Narukan menggelar Dialog Kebangsaan bersama tokoh agama di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi penguatan moderasi beragama dan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.
Dialog yang digelar di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman keagamaan yang moderat, inklusif, serta sejalan dengan semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kepala BNPT Eddy Hartono menegaskan bahwa dialog kebangsaan merupakan instrumen penting dalam upaya pencegahan paham radikal dan penguatan deradikalisasi. Ia menyebut forum ini sebagai sarana pencerahan bagi seluruh elemen yang terlibat.
“Forum dialog kebangsaan ini menjadi wadah pencerahan bagi kita semua yang hadir,” ujar Eddy Hartono saat menghadiri kegiatan tersebut, Senin (22/12).
Lebih lanjut, Eddy mendorong para mitra deradikalisasi untuk menjadikan dialog ini sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen kebangsaan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
“Jadi gunakan waktu ini sebaik-baiknya dan ini merupakan pencerahan dan pembekalan untuk iman kita lebih tumbuh dan berkembang dalam rangka kita mengimplementasi sebagai Warga Negara Indonesia,” tambahnya.
Penguatan nilai dialog dalam Islam turut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Menurutnya, dialog merupakan inti ajaran Islam sejak awal yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
“Awal Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW itu sebagai agama dialog. Dialog itu menjadikan orang bisa berfikir objektif,” jelas Gus Baha.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren LP3IA Al-Qur’an Narukan, Gus Umam, menegaskan komitmen lembaga pendidikan pesantren dalam membentuk santri yang tidak hanya unggul dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
“Pondok pesantren Al-Quran selalu berkomitmen mendidik santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki sikap toleran, menghargai perbedaan, dan cinta terhadap NKRI. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga persatuan dan kedamaian bangsa,” Gus Umam menjelaskan.
Dari sisi mitra deradikalisasi, Laswadi mengungkapkan bahwa dialog kebangsaan memberikan dampak signifikan terhadap perubahan cara pandang dalam beragama dan bernegara. Ia menilai pertemuan dengan para ulama membuka ruang pemahaman yang lebih utuh dan inklusif.
“Dengan adanya dialog ini akan semakin menambah keyakinan saya akan perubahan dalam hal kearah yang lebih baik dalam bernegara berbangsa dan beragama,” ujarnya.
Laswadi juga menekankan bahwa dialog menjadi sarana efektif untuk meluruskan pemahaman keagamaan yang bersifat keras dan eksklusif.
“Yang intoleran itu sangat diperlukan sangat efektif dengan dialog tentunya sehingga dengan dialog itu juga memahami sebetulnya apa yg dirasakan oleh kawan-kawan yang pemahamannya keras,” tambahnya.
Sebagai informasi, kegiatan dialog kebangsaan ini dilaksanakan secara luring dan daring. Sebanyak 20 mitra deradikalisasi atau mantan narapidana terorisme di Jawa Tengah dan Jawa Timur turut serta, bersama 223 narapidana terorisme dari 36 lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia, termasuk Lapas Nusakambangan.
Melalui kegiatan ini, BNPT berharap pesan moderasi beragama dan toleransi dapat menjangkau lebih luas, sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan guna menjaga persatuan, stabilitas, dan kedamaian nasional.