Caracas – Situasi di Amerika Latin memanas setelah Amerika Serikat serang Venezuela dengan meluncurkan serangan udara ke ibu kota Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Sejumlah ledakan besar terdengar di beberapa titik strategis, termasuk kompleks militer Fuerte Tiuna dan Pangkalan Udara La Carlota.
Saksi mata melaporkan sedikitnya tujuh ledakan disertai pemadaman listrik di beberapa wilayah sekitar Caracas. Serangan tersebut menandai eskalasi terbesar antara Washington dan pemerintahan Nicolás Maduro sejak krisis diplomatik dan ekonomi Venezuela memuncak beberapa tahun terakhir.
Menurut sumber internasional, serangan kali ini menyasar fasilitas militer utama, termasuk El Libertador Air Force Base di Maracay, pusat utama kekuatan udara Venezuela. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau kerusakan yang ditimbulkan.
Bulan-Bulan Persiapan Militer AS
Serangan udara ini bukan tanpa tanda-tanda. Selama beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah meningkatkan kehadiran militernya di Karibia, dengan sekitar 15.000 pasukan dan 11 kapal perang, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford, dikerahkan di sekitar perairan Venezuela.
Sebelumnya, militer AS melakukan lebih dari 30 operasi di laut yang diklaim menargetkan jaringan penyelundupan narkotika milik rezim Maduro. Namun, aksi kali ini menjadi pertama kalinya serangan langsung dilakukan terhadap wilayah daratan Venezuela.
Reaksi Dunia Internasional
Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan keprihatinannya melalui media sosial, menegaskan bahwa pihaknya “menuntut sidang darurat PBB” untuk membahas agresi militer tersebut. Sementara itu, pemerintah Venezuela belum memberikan pernyataan resmi, meski Presiden Maduro sebelumnya menyatakan kesediaan bernegosiasi dengan Washington terkait isu perdagangan narkotika.
Legalitas dan Dampak Diplomatik
Langkah militer Amerika Serikat ini memunculkan pertanyaan soal legalitas dan legitimasi serangan tersebut. Human Rights Watch menilai aksi militer itu melanggar hukum internasional dan berpotensi menjadi “tindakan pembunuhan di luar proses hukum.”
Selain itu, otoritas penerbangan AS mengeluarkan larangan bagi pesawat sipil untuk melintas di wilayah udara Venezuela, menjadikan kawasan itu sebagai zona operasi militer aktif.
Pemerintahan Trump hingga saat ini belum mengonfirmasi secara rinci tujuan dari serangan tersebut. Namun, dalam pernyataan sebelumnya, Trump menyebut bahwa “akan lebih bijak bagi Maduro untuk mundur,” mengisyaratkan kemungkinan adanya upaya perubahan rezim di Caracas.