JAKARTA — Harga emas dunia mengalami tekanan hebat dan mencatat penurunan tajam selama dua hari berturut-turut di tengah meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi yang biasanya mendorong investor memburu aset aman justru memicu aksi jual besar-besaran terhadap logam mulia karena pasar kini lebih mengkhawatirkan lonjakan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Pada perdagangan Rabu, harga emas spot merosot 3,5 persen ke level US$4.111,95 per ons troi. Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak akhir Maret dan menandai perubahan sentimen yang signifikan di pasar global.
Pelemahan emas terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali meningkat, sehingga bank sentral AS atau Federal Reserve berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target Iran pada Selasa waktu setempat. Operasi tersebut disebut sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran akan menghadapi konsekuensi serius setelah dinilai terlalu lama menunda proses negosiasi. Di sisi lain, Iran merespons dengan melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Meski ketegangan militer semakin memanas, investor justru mengurangi eksposur terhadap emas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih fokus pada dampak ekonomi dari perang dibandingkan risiko geopolitik itu sendiri.
Trader logam independen Tai Wong menilai pasar tengah mencari katalis positif setelah serangkaian data ekonomi yang memperkuat prospek kebijakan moneter ketat.
“Pasar sangat membutuhkan berita positif setelah laporan ketenagakerjaan yang kuat pada hari Jumat dan ancaman presiden di pagi hari terhadap Teheran,” ujar Tai Wong.
Fokus Investor Beralih ke Inflasi
Dalam kondisi normal, emas biasanya menjadi tujuan utama investor ketika terjadi perang atau ketidakpastian global. Namun kali ini, kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah justru mengubah arah pergerakan pasar.
Sejak eskalasi konflik meningkat pada akhir Februari, harga energi terus menanjak dan memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan kembali menguat di berbagai negara, terutama Amerika Serikat.
Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 67 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Angka tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi yang cukup drastis dibanding awal tahun ketika mayoritas investor berharap bank sentral mulai melonggarkan kebijakan moneternya.
Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Sementara itu, data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dirilis pada Rabu memberikan sedikit angin segar. Inflasi inti tercatat naik 0,2 persen secara bulanan pada Mei, lebih rendah dibanding kenaikan 0,4 persen pada April.
Meski demikian, para analis menilai tekanan harga dari sektor energi masih berpotensi mengubah arah inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, pelaku pasar kini menantikan data Indeks Harga Produsen (PPI) yang akan dirilis untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai langkah Federal Reserve selanjutnya.
Selat Hormuz Masih Tertutup, Harga Minyak Terus Menanjak
Di pasar energi, harga minyak mentah dunia terus bergerak naik akibat kekhawatiran terganggunya pasokan global.
Minyak Brent tercatat berada di kisaran US$94 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mendekati US$90 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu oleh berlanjutnya blokade Iran terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Selat Hormuz diketahui mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya. Penutupan jalur tersebut sejak konflik meningkat pada Maret lalu telah memicu kekhawatiran berkepanjangan di pasar energi internasional.
Serangan balasan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat juga memperkecil peluang pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dalam waktu dekat. Akibatnya, risiko gangguan pasokan minyak global semakin besar.
Pasar Keuangan Global Ikut Terguncang
Gejolak yang terjadi di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasar komoditas, tetapi juga menyeret pasar keuangan global ke zona merah.
Mayoritas bursa saham dunia ditutup melemah pada perdagangan Rabu. Indeks Volatilitas CBOE atau VIX, yang sering disebut sebagai indikator ketakutan pasar, melonjak ke level intraday tertinggi sejak awal April.
Di Eropa, tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi juga menjadi perhatian utama. Bank Sentral Eropa (ECB) memulai pertemuan kebijakan moneternya dengan ekspektasi pasar bahwa lembaga tersebut akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin guna meredam inflasi.
Meski harga emas mengalami tekanan dalam jangka pendek, sejumlah analis masih melihat prospek logam mulia tetap positif untuk horizon investasi yang lebih panjang.
Ahli strategi pasar Sprott Asset Management, Paul Wong, menilai faktor fundamental yang selama ini menopang harga emas masih belum berubah.
“Kekhawatiran terhadap inflasi, pembelian oleh bank sentral, dan pelemahan nilai mata uang terus mendukung emas,” kata Paul Wong dalam catatannya.