JAKARTA – Dua warga negara Indonesia (WNI) berhasil selamat dari pembajakan kapal di perairan Gabon, namun empat lainnya hingga kini masih disandera. Ketidakpastian ini membuat keluarga di Tanah Air menanti kabar dengan harap-harap cemas.
Keenam WNI tersebut merupakan awak kapal penangkap ikan IB FISH 7 (Liang Peng Yu 828) yang menjadi korban pembajakan di perairan Ekwata, Gabon, pada Minggu (11/1/2026) waktu setempat. Dari total 12 awak kapal, sembilan orang diculik, termasuk empat WNI dan lima warga negara Tiongkok.
Menurut keterangan otoritas Angkatan Laut Gabon, kapal tersebut diserang oleh tiga orang bersenjata saat beroperasi sekitar 7 mil laut tenggara Ekwata. Dua WNI bersama satu awak lainnya berhasil bertahan di atas kapal dan lolos dari penculikan. Mereka telah diamankan dan dikawal menuju Libreville untuk menjalani pengamanan serta pemeriksaan lebih lanjut.
Bagi keluarga di Tanah Air, keselamatan empat WNI yang masih disandera menjadi harapan utama. Hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai kondisi maupun lokasi para korban, sehingga menambah kecemasan pihak keluarga yang menanti kabar dari pemerintah.
Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan kasus ini secara intensif. KBRI Yaoundé yang merangkap wilayah Gabon telah berkoordinasi dengan otoritas setempat, perusahaan kapal, serta pihak terkait untuk mempercepat penelusuran.
“Kami memastikan pasukan Angkatan Laut Gabon tengah melakukan pengejaran terhadap para pelaku,” ujar Heni dalam keterangan resmi.
Selain fokus pada upaya penyelamatan, pemerintah juga memastikan kondisi kesehatan serta pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan bagi WNI yang selamat dan keluarga korban tetap menjadi perhatian.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan pemantauan dilakukan secara ketat dan berkelanjutan. Ia mengaku menunggu laporan pembaruan dari perwakilan RI di lapangan hampir setiap jam.
“Ini terus kita pantau. Saya juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Tiongkok karena sebagian besar korban penculikan merupakan warga negara Tiongkok,” kata Sugiono di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Koordinasi lintas negara tersebut diharapkan dapat mempercepat pertukaran informasi dan membuka jalur komunikasi terkait nasib para korban. Hingga kini, berbagai upaya diplomasi dan pengamanan terus dilakukan demi memastikan keempat WNI dapat kembali dengan selamat.
Kasus ini kembali menyoroti tingginya risiko keamanan maritim di Teluk Guinea, kawasan yang dikenal rawan perompakan dan penculikan awak kapal, serta menjadi tantangan serius bagi perlindungan pekerja migran Indonesia di sektor perikanan.