JAKARTA — Serangan udara di wilayah Al-Zahra, barat daya Kota Gaza, Rabu (21/1/2026), menewaskan tiga jurnalis lokal. Badan pertahanan sipil Gaza menyebut korban adalah Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim.
Shaat diketahui rutin berkontribusi untuk AFP sebagai jurnalis foto dan video. Dalam pernyataannya, AFP menyampaikan duka mendalam atas kehilangan Shaat dan menuntut penyelidikan penuh serta transparan. “Terlalu banyak jurnalis lokal yang tewas di Gaza selama dua tahun terakhir,” tulis kantor berita tersebut dilansir Hurriyet Daily News.
Militer Israel mengklaim serangan itu ditujukan kepada “tersangka” yang mengoperasikan drone berafiliasi dengan Hamas. Namun, saksi mata menyebut para jurnalis tengah merekam distribusi bantuan oleh Komite Mesir ketika kendaraan pendamping mereka diserang. Komite Bantuan Mesir mengonfirmasi salah satu kendaraannya menjadi sasaran, meski sudah berlogo resmi.
Serangan ini memicu kecaman luas. Hamas menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” atas pelanggaran gencatan senjata, sementara Serikat Jurnalis Palestina menilai insiden tersebut bagian dari kebijakan sistematis menargetkan jurnalis.
Reporters Without Borders (RSF) dan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) juga mengecam keras. RSF menilai serangan terhadap jurnalis yang jelas terlihat dari peralatan peliputan mereka dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. CPJ menambahkan, teknologi pengawasan Israel membuat klaim salah identifikasi tidak masuk akal.
Menurut data RSF, sejak Desember 2024 hingga Desember 2025, sedikitnya 29 jurnalis Palestina tewas di Gaza. Sejak perang pecah Oktober 2023, hampir 220 jurnalis dilaporkan terbunuh, menjadikan Gaza wilayah paling mematikan bagi pekerja media.
