Aksi jual investor asing terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berlangsung masif sepanjang 19–27 Januari 2026, dengan nilai net sell mencapai Rp5,86 triliun. Tekanan tersebut bahkan melampaui total net sell asing di seluruh pasar reguler pada periode yang sama, yang tercatat sebesar Rp4,46 triliun.
Intensitas penjualan semakin meningkat pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Dalam sesi pertama saja, investor asing membukukan net sell BBCA senilai Rp2,4 triliun, dengan 333,4 juta lembar saham berpindah tangan. Tekanan ini menjadikan BBCA sebagai pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari tersebut.
IHSG Anjlok 8%, BEI Terapkan Trading Halt
Tekanan jual yang meluas membuat IHSG terjun bebas hingga 8% ke level 8.261,79 pada Rabu (28/1/2026), memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt selama 30 menit. Dari total saham yang diperdagangkan, 768 saham melemah, sementara hanya 28 saham yang menguat.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Selasa malam (27/1/2026), yang memutuskan membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.
MSCI menilai masih terdapat kekhawatiran investor global terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan validitas data free float di pasar modal Indonesia.
“Langkah ini diambil untuk membatasi risiko turnover indeks dan menjaga aspek investability,” tulis MSCI. Kebijakan interim freeze tersebut mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham Indonesia di seluruh segmen indeks.
Manajemen BCA: Fluktuasi Saham Hal yang Wajar
Menanggapi tekanan terhadap saham BBCA, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyatakan bahwa pergerakan harga saham merupakan hal yang normal, terutama dengan dominasi kepemilikan asing.
“Kalau harga saham naik turun itu wajar. Sekitar 70% sampai 80% free float BBCA dimiliki investor asing, sehingga pergerakannya sangat bergantung pada kondisi global dan sentimen investor,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/1/2026).
Sejalan dengan itu, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih disebabkan oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena penurunan fundamental perusahaan.
Sementara Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menekankan bahwa perhatian pasar kini akan tertuju pada langkah regulator dalam meningkatkan transparansi data pasar guna memulihkan kepercayaan investor global.