Nomura Holdings Inc. menjadi lembaga keuangan global terbaru yang menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight pada Minggu (1/2/2026).
Langkah ini menyusul keputusan serupa yang lebih dulu diambil oleh Goldman Sachs Group Inc. dan UBS pada pekan lalu, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kelayakan investasi pasar saham domestik.
Keputusan tersebut diambil setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan peringatan terkait potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, menyusul sorotan terhadap lemahnya transparansi data kepemilikan saham.
“Peringatan MSCI mengenai potensi penurunan status Indonesia ke frontier market menjadi kejutan bagi kami dan pasar,” tulis strategist Nomura, Chetan Seth, dalam catatan risetnya, seperti dikutip Bloomberg, Senin (2/2/2026).
Tekanan Berlanjut pada Perdagangan Senin
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia kembali terlihat pada perdagangan Senin (2/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 5,31% pada penutupan sesi pertama, dipimpin oleh pelemahan saham-saham sektor pertambangan dan energi.
IHSG dibuka di level 8.306 dan merosot ke kisaran 7.900-an dalam waktu kurang dari 30 menit sejak pembukaan perdagangan, mencerminkan kuatnya sentimen negatif yang masih membayangi pasar.
Aksi jual investor asing terus mendominasi. Dalam tiga hari perdagangan sejak isu MSCI mencuat pada 28–30 Januari 2026, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih akumulatif sebesar Rp9,52 triliun pada saham-saham bank berkapitalisasi besar. Secara keseluruhan, tekanan jual asing mencapai Rp15,77 triliun sepanjang pekan terakhir Januari 2026.
Deretan Bank Investasi Pangkas Rekomendasi
Sebelum Nomura, Goldman Sachs telah lebih dulu menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight pada Kamis (29/1/2026). Goldman memperingatkan potensi arus keluar dana pasif sebesar US$2,2 miliar hingga US$7,8 miliar apabila Indonesia benar-benar direklasifikasi dari emerging market menjadi frontier market.
UBS kemudian menyusul dengan menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight. Nomura sendiri menyebut bahwa sikap positif mereka sebelumnya terhadap pasar saham Indonesia didasarkan pada valuasi relatif yang menarik serta ekspektasi stabilisasi ekonomi.
Namun, meningkatnya risiko arus keluar dana pasif dinilai membuat prospek jangka pendek pasar menjadi jauh lebih menantang.