JATENG – Talenta muda Indonesia kembali mencatat prestasi internasional di bidang keamanan siber. Bayu Fedra Abdullah (25), mahasiswa Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil menjadi pembicara di dua edisi konferensi Black Hat 2025, yakni Black Hat Middle East & Africa (MEA) di Riyadh, Arab Saudi, serta Black Hat Europe di London, Inggris.
Pada Desember 2025, pemuda asal Solo ini mempresentasikan dua inovasi buatannya di sesi Arsenal, platform demo alat keamanan siber terkemuka di Black Hat. Kedua alat tersebut adalah IPTI (IP Threat Intelligence) dan MBPTL (Most Basic Penetration Testing Lab), yang langsung menarik perhatian para pakar global dari berbagai negara.
IPTI menghadirkan pendekatan revolusioner dalam deteksi ancaman jaringan. Berbeda dengan sistem keamanan konvensional seperti firewall yang bersifat reaktif—hanya merespons setelah ancaman muncul—IPTI bekerja secara proaktif. Alat ini mengumpulkan data reputasi IP dari berbagai sumber tepercaya, dilengkapi dengan analisis port terbuka, metadata server, indikator privasi, hingga evaluasi PTR record, lalu menghasilkan skor risiko yang lebih akurat dan dapat ditindaklanjuti.
“Prinsipnya jangan tunggu dipukul. Cari tahu siapa yang mau mukul, kapan, dan pakai apa,” jelas Fedra mengenai mekanisme kerja IPTI yang menuai atensi pakar siber global di forum tersebut.
Sementara itu, MBPTL hadir sebagai solusi edukasi bagi calon white hat hacker. Platform simulasi ini memungkinkan pemula mempelajari teknik penetration testing secara legal, aman, dan terstruktur tanpa melanggar hukum. Pengguna dapat berlatih mengidentifikasi kerentanan sistem, melakukan simulasi pembobolan, serta memahami cara memperbaiki celah keamanan (patching), semuanya dalam lingkungan terkendali.
Inovasi ini sejalan dengan prinsip ethical hacking yang dianut Fedra, di mana pengetahuan peretasan digunakan untuk memperkuat pertahanan digital, bukan untuk merusak atau mencuri data.
Meski masih berstatus mahasiswa, Fedra telah mengantongi pengalaman lebih dari satu dekade di dunia siber. Ia memulai karier sejak usia 15 tahun. Lulusan SMKN 2 Solo ini pernah menjabat sebagai Senior Security Engineer di startup unicorn Ajaib. Kini, ia bekerja secara remote sebagai Application Security Engineer untuk perusahaan teknologi asal Singapura, sambil melanjutkan studi di UMS.
Kehadiran Bayu Fedra di Black Hat—konferensi yang selama ini didominasi pakar dari Silicon Valley dan negara maju—menjadi bukti kuat bahwa Indonesia mampu melahirkan ahli keamanan siber kelas dunia. Prestasi ini sekaligus mematahkan stigma negatif terhadap dunia peretasan, dengan menegaskan peran vital white hat hacker dalam menjaga keamanan ekosistem digital global.
Kedua alat ciptaan Fedra tersedia secara open source di GitHub (github.com/bayufedra/ipti dan github.com/bayufedra/MBPTL), membuka peluang bagi komunitas siber Indonesia dan dunia untuk mengembangkannya lebih lanjut.