Di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, kesibukan tim SAR dan relawan telah berganti sunyi. Operasi pencarian korban resmi dihentikan sepekan lalu, menyisakan luka menganga sepanjang 2,5 kilometer di kaki Gunung Burangrang.
Namun, di atas tanah yang masih menyimpan duka itu, fenomena ganjil justru muncul: lokasi bencana kini mendadak jadi destinasi “wisata” dan tempat ngabuburit.
Reruntuhan bangunan yang porak-poranda, batu-batu raksasa yang berserakan, hingga aliran sungai dadakan bukannya memicu rasa ngeri, malah mengundang rasa penasaran warga luar daerah untuk datang berkunjung.
Konten di Atas Penderitaan
Bagi para penyintas seperti Iman Rahmat, kehadiran para “wisatawan bencana” ini terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka. Ia merasa jengah melihat orang-orang asing datang hanya untuk mengambil gambar dan membuat konten demi keuntungan pribadi di media sosial.
“Sekarang malah banyak yang datang buat konten. Mereka dapat uang, sementara kita korban dapat apa?” keluh Iman pedih (25/2). “Padahal kita sedang berduka, keluarga jadi korban, rumah tinggal pun sudah hilang,” tambahnya dilansir dari Detik com.
Sebagai bentuk perlawanan, warga dan pemerintah desa memasang spanduk peringatan keras di Kampung Pasir Kuda yang kini porak-poranda. Terpampang tulisan besar: ‘BUKAN TEMPAT WISATA, JAGA ADAB’. Sebuah teguran telak bagi siapa pun yang mengeksploitasi tragedi demi angka likes dan views.
Nisan Tanpa Jasad dan Doa yang Tersisa
Di hamparan material longsor selebar 40 meter yang mulai mengering, terlihat pemandangan menyayat hati. Taburan bunga berwarna-warni dan nisan-nisan kayu sengaja dipasang oleh warga sebagai penanda bagi anggota keluarga yang belum ditemukan.
Berdasarkan data tim SAR, masih ada sekitar 20 nyawa yang terkubur di bawah jutaan kubik tanah tersebut. Operasi kemanusiaan terpaksa dihentikan pada 14 Februari lalu karena batas waktu yang ditentukan, menyisakan asa bagi keluarga yang berharap jasad orang tercinta suatu saat bisa ditemukan untuk dimakamkan secara layak.
Bagi warga setempat, lokasi itu adalah kuburan massal yang sakral. Namun bagi sebagian pendatang, itu hanyalah latar belakang untuk swafoto sebelum waktu berbuka puasa tiba.